MENGAKU AHLI مَعْرِفَةُ اللَّهِ TAPI DOYAN HARTA شُبُهَات
(Fenomena Kontradiksi Spiritual dalam Perspektif Dakwah Ilmiah Kontemporer)Pengertian Judul
Istilah مَعْرِفَةُ اللَّهِ (ma‘rifatullāh) secara bahasa berarti “mengenal Allah”, sedangkan secara istilah adalah tingkat pengetahuan hati (ma‘rifah qalbiyyah) yang melahirkan rasa takut (خَشْيَة) dan pengagungan (تَعْظِيم) kepada Allah ﷻ.
Adapun شُبُهَات (syubuhāt) adalah perkara-perkara yang tidak jelas halal dan haramnya, berada di antara keduanya, sehingga berpotensi menjerumuskan pelakunya ke dalam yang haram.
Judul ini mengkritisi fenomena kontradiktif: seseorang mengaku telah mencapai maqām tinggi dalam mengenal Allah, namun perilakunya justru tidak wara‘, bahkan gemar mengambil harta yang tidak jelas—seperti membuat proposal fiktif, manipulasi dana, atau bentuk penipuan lainnya.
A. Hakikat مَعْرِفَةُ اللَّهِ yang Benar
Ma‘rifatullāh bukan sekadar klaim, tetapi buah dari iman dan ketakwaan.
1. Ma‘rifat melahirkan rasa takut kepada Allah
قال الله تعالى:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. فاطر: 28)
➡️ Orang yang benar-benar mengenal Allah pasti takut melanggar-Nya, apalagi dalam urusan harta.
2. Ma‘rifat melahirkan sifat wara‘ (menjauhi syubhat)
قال رسول الله ﷺ:
فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ
“Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. البخاري ومسلم)
➡️ Ahli ma‘rifat sejati justru paling hati-hati terhadap syubhat, bukan malah menikmatinya.
B. Kontradiksi: Klaim Ma‘rifat tapi Memakan Harta Syubhat
Fenomena ini termasuk bentuk تَنَاقُض (kontradiksi) antara pengakuan dan realita.
1. Mengaku dekat dengan Allah tapi tidak amanah
قال الله تعالى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ
“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta amanah kalian.” (QS. الأنفال: 27)
➡️ Proposal fiktif adalah bentuk خِيَانَة (pengkhianatan).
2. Memakan harta dengan cara batil
قال الله تعالى:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
“Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil.” (QS. البقرة: 188)
➡️ Manipulasi dana termasuk أَكْلُ الْمَالِ بِالْبَاطِلِ.
3. Tidak takut hisab (perhitungan akhirat)
قال رسول الله ﷺ:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ... عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya... tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.” (HR. الترمذي)
➡️ Ahli ma‘rifat sejati sangat takut pada pertanyaan ini.
C. Penyebab Penyimpangan Ini
1. مَعْرِفَةٌ دَعْوِيَّةٌ لَا حَقِيقِيَّةَ
Ma‘rifat sebatas klaim dakwah, bukan realitas hati.
➡️ Hanya retorika, bukan tazkiyah.
2. حُبُّ الدُّنْيَا
Cinta dunia yang mengalahkan spiritualitas.
قال رسول الله ﷺ:
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ
“Cinta dunia adalah رأس (pangkal) segala kesalahan.”¹
3. ضَعْفُ الْوَرَعِ
Lemahnya sikap wara‘.
➡️ Tidak ada filter antara halal, syubhat, dan haram.
4. تَزْكِيَةُ النَّفْسِ الزَّائِفَةُ
Merasa suci padahal rusak.
قال الله تعالى:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ
“Janganlah kalian menganggap diri kalian suci.” (QS. النجم: 32)
D. Contoh Praktik Harta Syubhat Modern
- Proposal bantuan fiktif
- Manipulasi laporan keuangan
- Mark-up dana kegiatan
- Menggunakan nama agama untuk mencari keuntungan pribadi
- Donasi tidak transparan
➡️ Semua ini termasuk wilayah شُبُهَات bahkan bisa jatuh ke حَرَام.
E. Ciri Ahli Ma‘rifat Sejati
1. وَرَعٌ شَدِيدٌ
Sangat hati-hati terhadap harta.
2. صِدْقٌ وَأَمَانَةٌ
Jujur dan amanah dalam setiap urusan.
3. خَوْفٌ مِنَ اللَّهِ
Takut kepada Allah dalam perkara kecil maupun besar.
4. زُهْدٌ فِي الدُّنْيَا
Tidak rakus terhadap dunia.
5. مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ
Selalu introspeksi diri.
F. Solusi Tazkiyah
1. تَصْحِيحُ النِّيَّةِ
Meluruskan niat dalam beragama.
2. مُرَاقَبَةُ اللَّهِ
Merasa diawasi Allah setiap saat.
3. تَرْكُ الشُّبُهَاتِ
Meninggalkan perkara syubhat secara total.
4. صُحْبَةُ الصَّالِحِينَ
Berkumpul dengan orang-orang yang wara‘.
5. التَّوْبَةُ النَّصُوحَةُ
Taubat yang sungguh-sungguh.
قال الله تعالى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Hai orang-orang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. التحريم: 8)
Penutup
Mengaku ahli مَعْرِفَةُ اللَّهِ namun masih doyan harta شُبُهَات adalah tanda rusaknya kejujuran spiritual. Ma‘rifat sejati bukan pada ucapan, tetapi pada الْوَرَعُ وَالتَّقْوَى.
Barang siapa semakin mengenal Allah, maka semakin bersih tangannya dari harta yang kotor.
Footnote
¹ Hadits ini diriwayatkan oleh البيهقي dalam شعب الإيمان, dinilai hasan oleh sebagian ulama meskipun ada kelemahan sanad, namun maknanya shahih didukung dalil lain.
Wallahu a'lam bish shawab
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar