KESEDIHAN BERPISAH DENGAN RAMADHAN


KESEDIHAN BERPISAH DENGAN RAMADHAN

(Kultum Tarawih ±7 Menit)


Pengertian Judul

“Kesedihan berpisah dengan Ramadhan” adalah perasaan haru, rindu, dan kehilangan seorang hamba ketika bulan suci yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka akan meninggalkannya. Kesedihan ini bukan kelemahan, tetapi tanda hidupnya hati (ḥayātul qalb) dan bukti kecintaan kepada ketaatan.


Mukadimah

الحمد لله الذي بلغنا رمضان، ووفقنا للصيام والقيام، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita berada di penghujung bulan Ramadhan. Bulan yang datang membawa cahaya, dan kini perlahan akan pergi meninggalkan kita. Maka wajar jika hati seorang mukmin dipenuhi rasa sedih.


Ramadhan Laksana Orang Tua yang Mendidik

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ramadhan seumpama orang tua kita. Ia mendidik kita dengan penuh kasih:

  • Mengajarkan ṣabr (kesabaran) melalui puasa
  • Melatih taqwā dengan menahan diri dari yang haram
  • Membiasakan qiyāmul lail dan tilawah Al-Qur’an

Sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
*(QS. Al-Baqarah: 183)*¹

Ramadhan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih mulia. Maka ketika ia pergi, seakan kita berpisah dengan sosok yang sangat berjasa.


Ramadhan Laksana Sahabat yang Setia

Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Ramadhan juga seperti sahabat dekat:

  • Hari demi hari kita lalui bersama
  • Ia menemani sahur kita
  • Ia menghidupkan malam kita dengan tarawih
  • Ia mendekatkan kita kepada Al-Qur’an

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.”
*(HR. Bukhari dan Muslim)*²

Sahabat seperti ini, yang membawa kita kepada surga, tentu sangat berat untuk ditinggalkan.


Mengapa Kita Sedih?

Kesedihan itu muncul karena:

  • Takut amal kita belum maksimal (khauf)
  • Berharap ampunan Allah (rajā’)
  • Tidak yakin apakah masih dipertemukan kembali

Inilah tanda hati yang hidup dan iman yang tumbuh.


Agar Perpisahan Menjadi Indah

Hadirin yang berbahagia,
Agar perpisahan dengan Ramadhan tidak sia-sia, maka lakukan dua hal:

1. Mengingat Besarnya Jasa Ramadhan

Ramadhan telah memberi kita:

  • Kesehatan: tubuh lebih teratur dengan puasa
  • Silaturrahmi: berkumpul saat buka dan tarawih
  • Taqwa: meningkatnya kualitas ibadah

Allah berfirman:

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan berpuasa itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”
*(QS. Al-Baqarah: 184)*³

Jangan biarkan semua itu hilang setelah Ramadhan pergi.


2. Banyak Berdo’a Agar Dipertemukan Kembali

Para ulama salaf dahulu berdoa selama 6 bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan 6 bulan setelahnya agar amalnya diterima.

Doa yang dianjurkan:

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ قَادِمًا
“Ya Allah, terimalah puasa dan ibadah kami, dan sampaikanlah kami kepada Ramadhan berikutnya.”

Karena sejatinya, tidak semua orang diberi kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan.


Penutup

Ma’asyiral muslimin,
Jika kita sedih berpisah dengan orang tua dan sahabat, maka lebih layak lagi kita bersedih berpisah dengan Ramadhan.

Namun jadikan kesedihan itu sebagai motivasi untuk tetap istiqamah:

  • Tetap shalat berjamaah
  • Tetap membaca Al-Qur’an
  • Tetap menjaga akhlak

Semoga Allah menerima amal kita dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan di tahun yang akan datang.


Footnote

¹ QS. Al-Baqarah: 183
² HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079
³ QS. Al-Baqarah: 184


Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama