BERATNYA DOSA BERGUNJING: Diam Lebih Baik Daripada Salah Omong
Pengertian Judul
“Bergunjing” dalam istilah syariat dikenal dengan al-ghībah (الغيبة), yaitu menyebutkan sesuatu tentang saudara kita yang ia tidak suka, meskipun itu benar adanya. Jika yang disebutkan tidak benar, maka itu menjadi al-buhtān (البهتان) yang dosanya lebih besar. Dalam kehidupan modern yang sarat komunikasi—baik lisan maupun digital—bahaya ghibah semakin meluas dan sering dianggap sepele, padahal dosanya sangat berat di sisi Allah ﷻ.
Ungkapan “Diam lebih baik daripada salah omong” sejalan dengan prinsip Islam dalam menjaga lisan (ḥifẓ al-lisān), karena banyak manusia tergelincir ke dalam dosa besar akibat lisannya.
Urgensi Menjaga Lisan dalam Islam
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan, karena lisan adalah cerminan hati dan sumber banyak dosa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi kaidah besar dalam etika berbicara (ādāb al-kalām), bahwa diam adalah pilihan yang lebih selamat dibanding berkata yang membawa dosa.
Hakikat dan Definisi Ghibah (الغيبة)
Rasulullah ﷺ menjelaskan secara rinci:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟
قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
"Tahukah kalian apa itu ghibah? Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda: Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia tidak suka. Ditanya: Bagaimana jika itu benar ada padanya? Beliau menjawab: Jika benar, maka engkau telah mengghibahnya. Jika tidak benar, maka engkau telah memfitnahnya."
(HR. Muslim)
Beratnya Dosa Ghibah dalam Al-Qur’an
Allah ﷻ menggambarkan ghibah dengan perumpamaan yang sangat mengerikan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ... وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka... dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah."
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini menunjukkan:
- Ghibah adalah dosa besar (kabīrah).
- Perumpamaannya sangat hina: seperti memakan bangkai saudara sendiri.
- Menunjukkan rusaknya hati dan hilangnya rasa malu (ḥayā’).
Dampak Buruk Ghibah
1. Merusak Amal (إفساد الأعمال)
Ghibah dapat memindahkan pahala kepada orang yang digunjing.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟... يَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا... فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ...
"Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?... Ia datang dengan amal, namun pernah mencela ini dan itu, maka diberikanlah pahala-pahalanya kepada mereka..."
(HR. Muslim)
2. Menimbulkan Permusuhan (إثارة العداوة)
Ghibah memicu:
- Dendam (ḥiqd)
- Kebencian (bughḍ)
- Perpecahan umat (tafriq al-ummah)
3. Mengotori Hati (فساد القلب)
Orang yang terbiasa ghibah menunjukkan:
- Lemahnya iman
- Rusaknya akhlak
- Hilangnya rasa takut kepada Allah
4. Menjadi Kebiasaan Sosial yang Berbahaya
Di era digital:
- Ghibah terjadi di grup WhatsApp
- Media sosial menjadi ladang dosa kolektif
- “Forward” tanpa tabayyun termasuk bentuk ghibah modern
Diam Lebih Baik: Prinsip Keselamatan
Diam (ṣamt) dalam Islam bukan berarti pasif, tetapi bentuk pengendalian diri (mujāhadah al-nafs).
Para ulama mengatakan:
الصَّمْتُ حِكْمَةٌ وَقَلِيلٌ فَاعِلُهُ
"Diam itu hikmah, namun sedikit yang mampu melakukannya."
Diam menjadi ibadah ketika:
- Mencegah dosa
- Menghindari konflik
- Menjaga kehormatan orang lain
Kapan Ghibah Dibolehkan? (الغيبة المباحة)
Ulama seperti Imam Nawawi menyebutkan beberapa kondisi darurat:
- At-taẓallum (mengadukan kezaliman)
- Al-istiftā’ (meminta fatwa)
- At-taḥdhīr (memberi peringatan)
- Al-jarḥ wa at-ta‘dīl (kritik ilmiah terhadap perawi)
- Menyebut identitas tanpa niat merendahkan
- Menyebut pelaku maksiat terang-terangan (mujāhir)
Namun ini harus dengan:
- Niat benar
- Tidak berlebihan
- Sesuai kebutuhan
Tips Menjaga Lisan dari Ghibah
1. Menghadirkan Muraqabah (مراقبة الله)
Merasa diawasi Allah setiap saat.
2. Sibukkan Diri dengan Dzikir
Lisan yang basah dengan dzikir sulit untuk ghibah.
3. Ingat Dampak Akhirat
Setiap kata akan dihisab.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang mencatat."
(QS. Qaf: 18)
4. Pilih Lingkungan yang Baik
Lingkungan yang suka ghibah akan menyeret kita.
5. Latih Diam
Biasakan:
- Berpikir sebelum berbicara
- Menahan komentar yang tidak perlu
Penutup
Ghibah adalah dosa yang sering diremehkan, namun sangat berat akibatnya. Ia merusak amal, menghancurkan ukhuwah, dan membinasakan pelakunya di akhirat. Dalam dunia yang penuh godaan komunikasi ini, prinsip “diam lebih baik daripada salah omong” adalah jalan keselamatan.
Menjaga lisan adalah tanda kesempurnaan iman dan kematangan akhlak. Siapa yang mampu menahan lisannya, maka ia telah menjaga agamanya.
Footnote
- HR. Bukhari no. 6018; Muslim no. 47.
- HR. Muslim no. 2589.
- QS. Al-Hujurat: 12.
- HR. Muslim no. 2581.
- QS. Qaf: 18.
- Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Ghibah.
— — — — — — — — — — — — — — — — — — — —
Wallahu a'lam bish shawab
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar