PENCINTA DZURIYAH PALSU: PINTU MASUK KHURAFAT DAN TAHAYUL
Buletin Dakwah Ilmiah Kontemporer
Mukadimah
Di tengah masyarakat muslim, mencintai keturunan Nabi ﷺ (dzuriyah) adalah perkara mulia. Namun cinta yang benar harus dilandasi ilmu dan dalil, bukan fanatisme buta. Pada masa kini muncul fenomena mengkhawatirkan: sebagian orang begitu mudah mengklaim dirinya sebagai “keturunan Nabi”, lalu dielu-elukan tanpa verifikasi ilmiah. Anehnya, para pengagumnya sering kali terjerumus kepada praktik-praktik khurafat, tahayul, bahkan kesyirikan.
Buletin ini mengingatkan bahwa membela klaim dzuriyah palsu bukan sekadar kesalahan sosial, tetapi dapat menjadi pintu besar penyimpangan akidah.
Mengapa Klaim Dzuriyah Palsu Mudah Berkembang?
Ada beberapa sebab utama:
- Kebodohan terhadap agama.
- Fanatisme buta kepada figur tertentu.
- Minimnya sikap kritis dan verifikasi ilmiah.
- Budaya kultus individu.
Akibatnya, klaim nasab yang tidak jelas sanadnya diterima begitu saja, bahkan dijadikan alasan untuk mengagungkan seseorang secara berlebihan.
Ciri Umum Pengagum Dzuriyah Palsu
Pengalaman dakwah menunjukkan bahwa orang-orang yang fanatik kepada dzuriyah palsu umumnya:
- Mudah mempercayai cerita karomah tanpa dalil.
- Meyakini keberkahan jimat, air “doa khusus”, atau benda keramat.
- Menganggap tokoh tertentu punya kemampuan ghaib.
- Mengkultuskan guru hingga melampaui batas syariat.
Padahal semua ini bertentangan dengan kemurnian tauhid.
Dalil-Dalil Syar’i
1. Islam Melarang Berdusta tentang Nasab
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ
“Barang siapa mengaku bernasab kepada selain ayahnya padahal ia tahu, maka haram baginya surga.”
*(HR. Bukhari dan Muslim)*¹
Hadis ini menunjukkan bahwa memalsukan nasab bukan dosa ringan, bahkan termasuk dosa besar yang mengancam pelakunya.
2. Ukuran Kemuliaan Bukan Nasab
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.”
*(QS. Al-Hujurat: 13)*²
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari keturunan, tetapi dari ketakwaannya. Maka mengagungkan seseorang hanya karena klaim nasab adalah sikap keliru.
3. Larangan Berlebih-lebihan dalam Mengagungkan Manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebih-lebihan terhadap Isa putra Maryam.”
*(HR. Bukhari)*³
Jika kepada Nabi ﷺ saja kita dilarang berlebihan, apalagi kepada orang yang hanya mengaku-ngaku keturunan beliau!
4. Sumber Utama Khurafat: Kebodohan
Allah mengingatkan:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Dan di antara manusia ada yang berbantah tentang Allah tanpa ilmu.”
*(QS. Luqman: 20)*⁴
Mengikuti klaim dzuriyah tanpa ilmu dan bukti adalah bentuk sikap berbicara tentang agama tanpa dasar.
Hubungan Klaim Dzuriyah Palsu dengan Khurafat
Mengapa pengagum dzuriyah palsu sering terjerumus kepada khurafat?
Karena ketika seseorang diagungkan tanpa dasar ilmu, maka:
- Ucapannya dianggap selalu benar.
- Kesalahannya dianggap karomah.
- Perintahnya ditaati walau menyelisihi syariat.
- Amalan bid‘ah dibela mati-matian.
Inilah jalan setan untuk merusak akidah umat. Dari klaim nasab palsu lahir praktik meminta berkah kuburan, ziarah berlebihan, jimat, ritual-ritual aneh, hingga keyakinan bahwa tokoh tertentu dapat memberi manfaat dan mudarat.
Padahal Allah menegaskan:
قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
“Katakanlah: Aku tidak memiliki kemampuan memberi manfaat dan mudarat untuk diriku kecuali apa yang Allah kehendaki.”
*(QS. Al-A‘raf: 188)*⁵
Jika Nabi ﷺ sendiri tidak memiliki kekuatan ghaib, bagaimana mungkin orang yang hanya mengaku keturunannya justru diyakini punya kesaktian?
Sikap yang Benar terhadap Dzuriyah Nabi ﷺ
Ahlus Sunnah wal Jamaah berada di jalan pertengahan:
- Mencintai ahlul bait yang benar nasabnya.
- Memuliakan mereka karena iman dan ketakwaan.
- Tidak mengultuskan atau menganggap mereka maksum.
- Tetap mengukur kebenaran dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Siapa pun ucapannya bisa diterima atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini (Rasulullah ﷺ).”⁶
Maka klaim nasab tidak otomatis membuat seseorang menjadi panutan agama.
Bahaya Fanatisme kepada Dzuriyah Palsu
- Merusak kemurnian tauhid.
- Membuka pintu bid‘ah dan tahayul.
- Menipu umat demi kepentingan dunia.
- Memecah belah kaum muslimin.
- Mengalihkan manusia dari ilmu yang shahih.
Karena itu, kewajiban setiap muslim adalah berhati-hati, kritis, dan tidak mudah terpesona oleh gelar atau klaim keturunan.
Penutup dan Nasihat
Mencintai dzuriyah Nabi ﷺ adalah ibadah, tetapi mencintai klaim palsu adalah musibah. Kebenaran nasab harus dibuktikan dengan penelitian ilmiah yang valid, bukan sekadar cerita turun-temurun.
Lebih penting dari semua itu, kemuliaan seseorang di sisi Allah bukanlah karena darah yang mengalir di tubuhnya, tetapi karena ilmu, iman, dan ketakwaannya.
Marilah kita pegang teguh wasiat Rasulullah ﷺ:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku.”
*(HR. Malik dalam Al-Muwaththa’)*⁷
Semoga Allah menjaga kita dari fitnah klaim palsu, dari khurafat, dan dari fanatisme buta.
Footnote
- HR. Bukhari no. 6766, Muslim no. 63.
- Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan QS. Al-Hujurat: 13.
- HR. Bukhari no. 3445.
- Tafsir Ath-Thabari pada QS. Luqman: 20.
- Tafsir As-Sa‘di pada QS. Al-A‘raf: 188.
- Diriwayatkan dalam kitab Jami‘ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih karya Ibnu ‘Abdil Barr.
- Al-Muwaththa’ Imam Malik, no. 1594.
Wallahu a'lam


Posting Komentar