GEMBIRA DAN MEMULIAKAN RAMADHAN BAGAI TAMU AGUNG
Buletin Dakwah Kontemporer
Dalil Utama
Rasulullah ﷺ bersabda:
اَتَاكُمْ رَمَضَانُ سَيِّدُ الشُّهُورِ فَمَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلًا، جَاءَ شَهْرُ الصِّيَامِ بِالْبَرَكَاتِ فَأَكْرِمْ بِهِ مِنْ زَائِرٍ هُوَ آتٍ
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka selamat datanglah kepadanya dengan kegembiraan dan keakraban. Telah datang bulan shaum membawa keberkahan. Maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.”
(HR. Ath-Thabrani)
Hadits ini memuat dua perintah sikap:
(1) Bergembira menyambutnya (مَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلًا)
(2) Memuliakannya (فَأَكْرِمْ بِهِ)
I. MELAKSANAKAN RAMADHAN DENGAN GEMBIRA
A. Gembira karena “Ahlan” (Kedekatan & Kekeluargaan)
Kata أَهْلًا bermakna kedekatan, kekeluargaan, dan suasana akrab. Ramadhan menghadirkan intensitas pertemuan dalam ibadah:
- Shalat berjama’ah lima waktu
- Tarawih
- Sahur dan berbuka bersama
- Tadarus Al-Qur’an
Dalil tentang Sering Bertemu dalam Kebaikan
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca dan mempelajari Al-Qur’an, melainkan turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat…”
(HR. Muslim)
Juga sabda beliau ﷺ:
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ramadhan memperbanyak momentum pertemuan ruhani, mempererat ukhuwah dan menguatkan iman.
B. Gembira karena Membawa Keberkahan
(شَهْرُ الصِّيَامِ بِالْبَرَكَاتِ)
1. Berkah Kesehatan
صُومُوا تَصِحُّوا
“Berpuasalah, niscaya kalian sehat.”
(HR. Ath-Thabrani, hasan menurut sebagian ulama)
Puasa mengajarkan disiplin makan, detoksifikasi alami, dan pengendalian diri.
2. Berkah Ampunan Dosa
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah sebab utama kegembiraan: peluang pengampunan terbuka luas.
II. MEMULIAKAN RAMADHAN (فَأَكْرِمْ بِهِ)
Ramadhan diibaratkan sebagai tamu (زائر). Dalam Islam, memuliakan tamu adalah perintah iman.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jika tamu biasa saja dimuliakan, maka Ramadhan sebagai tamu agung lebih layak dimuliakan.
1. Memuliakan dengan Ilmu
Tamu agung harus dikenali karakter dan kebutuhannya.
Allah ﷻ berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ
“Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Maka memuliakan Ramadhan dimulai dengan:
- Memahami fiqh puasa
- Menghidupkan majelis ilmu
- Mempelajari tafsir dan tadabbur
2. Memuliakan dengan Amal
A. Memberi Makan Orang Berbuka
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ
“Barangsiapa memberi makan orang yang berbuka, maka baginya pahala seperti orang tersebut.”
(HR. Tirmidzi)
B. Memperbanyak Sedekah
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
“Rasulullah ﷺ adalah orang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari)
3. Memuliakan dengan Akhlak
Puasa bertujuan membentuk takwa dan akhlak.
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ
“Jika salah seorang dari kalian berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berbuat gaduh.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan senyum pun bernilai ibadah:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”
(HR. Tirmidzi)
Akhlak Ramadhan meliputi:
- Sabar
- Senyum
- Menahan amarah
- Menjaga lisan
- Menghindari ghibah
- Bijak dalam bermedia sosial
PENUTUP
Ramadhan adalah tamu agung yang tidak lama tinggal.
Allah ﷻ berfirman:
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ
“(Puasa itu) beberapa hari yang tertentu.”
(QS. Al-Baqarah: 184)
Maka siapa yang bergembira menyambutnya dan memuliakannya dengan ilmu, amal, dan akhlak, ia akan dimuliakan Allah dengan ampunan dan derajat takwa.
Wallahu a'lam
Drs. Hamzah Johan


Posting Komentar