Dzuriyah Palsu Sulit Menerima Kebenaran dan Enggan Bertaubat



Dzuriyah Palsu Sulit Menerima Kebenaran dan Enggan Bertaubat

Buletin Dakwah Ilmiah Kontemporer

Pendahuluan

Fenomena klaim dzuriyah Nabi ﷺ secara palsu bukan sekadar kesalahan administrasi nasab, melainkan penyakit akidah dan akhlak. Yang lebih berbahaya bukan hanya kebohongan nasabnya, tetapi sikap keras kepala, penolakan terhadap kebenaran, dan keengganan untuk bertaubat ketika bukti ilmiah dan syar‘i telah ditegakkan. Inilah ciri klasik para pelaku kebatilan sepanjang sejarah.


1. Akar Masalah: Kesombongan Ilmiah dan Penyakit Hati

Salah satu sebab utama dzuriyah palsu sulit menerima kebenaran adalah kesombongan (kibr). Mereka telah menikmati status sosial, penghormatan, dan keuntungan duniawi dari klaim palsu tersebut.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Tiada tuhan selain Allah’, mereka menyombongkan diri.”
(QS. Ash-Shaffat: 35)

Ayat ini menunjukkan bahwa penolakan kebenaran bukan karena tidak tahu, tetapi karena kesombongan batin. Demikian pula dzuriyah palsu: kebenaran nasab sudah jelas, sanad dan dokumen telah dipaparkan, namun tetap ditolak karena gengsi dan kepentingan.


2. Mengetahui Kebenaran tetapi Mengingkarinya

Al-Qur’an menggambarkan tipe manusia yang mengenal kebenaran namun menolaknya secara sadar:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
“Mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakininya, karena kezaliman dan kesombongan.”
(QS. An-Naml: 14)

Ayat ini sangat relevan dengan fenomena dzuriyah palsu:

  • Bukti ilmiah nasab telah ditegakkan
  • Pendapat ulama nasab telah dijelaskan
  • Kaidah syariat telah diterangkan

Namun tetap ditolak demi mempertahankan klaim palsu. Ini bukan kebodohan, melainkan kedurhakaan intelektual.


3. Enggan Bertaubat karena Takut Kehilangan Dunia

Taubat menuntut kejujuran dan keberanian. Banyak dzuriyah palsu takut kehilangan kehormatan, pengaruh, jamaah, bahkan materi, sehingga menunda atau menolak taubat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

حُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Neraka dikelilingi oleh berbagai syahwat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Syahwat di sini bukan hanya hawa nafsu biologis, tetapi juga syahwat jabatan, popularitas, dan status sosial keagamaan. Klaim dzuriyah palsu sering menjadi “modal dakwah”, sehingga taubat dianggap ancaman eksistensi.


4. Memutarbalikkan Dalil untuk Membela Kebatilan

Ciri lain dzuriyah palsu adalah memelintir dalil, menggunakan ayat atau hadits tentang keutamaan Ahlul Bait untuk membenarkan nasab yang tidak sah.

Allah ﷻ mengingatkan:

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ
“Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada penyimpangan, mereka mengikuti ayat-ayat yang samar untuk menimbulkan fitnah.”
(QS. Ali ‘Imran: 7)

Padahal para ulama nasab menegaskan bahwa kemuliaan Ahlul Bait tidak bisa diwarisi dengan kebohongan, dan cinta kepada Nabi ﷺ harus dibangun di atas kejujuran.


5. Pandangan Ulama tentang Taubat dari Klaim Nasab Palsu

Para ulama menegaskan bahwa klaim nasab palsu adalah dosa besar yang wajib ditaubati secara terbuka jika telah disebarkan secara publik.

Imam Ibn Hajar Al-Haitami رحمه الله berkata:

“Termasuk dosa besar adalah seseorang menisbatkan dirinya kepada nasab yang bukan miliknya.”
(Az-Zawajir ‘an Iqtiraf Al-Kaba’ir)

Rasulullah ﷺ bersabda dengan ancaman keras:

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ
“Barang siapa mengaku sebagai anak dari selain ayahnya, maka surga haram baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mencakup seluruh bentuk pemalsuan nasab, termasuk klaim dzuriyah Nabi ﷺ tanpa bukti sah.


6. Menyadarkan Mereka adalah Bentuk Amar Ma‘ruf

Membongkar klaim dzuriyah palsu bukan kebencian, melainkan bentuk nasihat dan amar ma‘ruf nahi munkar.

Allah ﷻ berfirman:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Dan mereka saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 3)

Jika mereka tetap menolak, maka kewajiban penegak kebenaran telah gugur, dan dosa tetap berada di pundak pelaku kebohongan tersebut.


Penutup

Dzuriyah palsu yang sulit menerima kebenaran dan enggan bertaubat bukan sekadar masalah nasab, tetapi krisis kejujuran, penyakit hati, dan pengkhianatan terhadap amanah ilmu. Taubat masih terbuka, namun waktu terus berjalan.

فَإِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنِ الْعِبَادِ
“Sesungguhnya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.”
(QS. Asy-Syura: 25)

Namun taubat sejati hanya milik mereka yang berani jujur, meninggalkan klaim palsu, dan kembali kepada kebenaran.


Catatan Kaki (Footnote)

  1. Al-Qur’an al-Karim, QS. Ash-Shaffat: 35.
  2. Al-Qur’an al-Karim, QS. An-Naml: 14.
  3. Al-Bukhari & Muslim, Shahihain.
  4. Ibn Hajar Al-Haitami, Az-Zawajir ‘an Iqtiraf Al-Kaba’ir.
  5. Al-Qur’an al-Karim, QS. Ali ‘Imran: 7.
  6. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-‘Ashr: 3.
  7. Al-Qur’an al-Karim, QS. Asy-Syura: 25.

Wallahu a'lam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama