Nabi ﷺ Isra’ dengan Buraq dan Mi‘raj bersama Jibril
(Meluruskan Urutan, Sarana, dan Hakikat Perjalanan Berdasarkan Dalil Shahih)
Pendahuluan
Peristiwa Isra’ dan Mi‘raj adalah mukjizat besar Rasulullah ﷺ yang kerap disampaikan secara bercampur antara dalil dan dongeng. Padahal, nash-nash shahih dengan jelas membedakan sarana Isra’ dan pendamping Mi‘raj, serta menunjukkan perbedaan hakikat dan kemampuan antara Buraq dan Malaikat Jibril. Meluruskan hal ini adalah bagian dari amanah dakwah ilmiah.
1. Isra’: Perjalanan Horizontal dengan Buraq
Isra’ adalah perjalanan malam Nabi ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dilakukan secara fisik dan sadar, dengan Buraq sebagai tunggangan.
Dalil Al-Qur’an:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha …”
(QS. Al-Isrā’: 1)¹
Dalil Hadis:
أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ
“Didatangkan kepadaku Buraq, hewan tunggangan berwarna putih …”
(HR. Muslim)²
➡️ Penegasan:
Isra’ adalah perjalanan bumi, maka Allah ﷻ menyiapkan makhluk tunggangan yang sesuai dengan wilayah tugas tersebut.
2. Karakteristik dan Kecepatan Buraq
Rasulullah ﷺ menjelaskan sifat kecepatan Buraq:
خَطْوُهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ
“Langkahnya sejauh batas pandangan matanya.”
(HR. Muslim)³
Penjelasan Ilmiah (Taqrīb, bukan Kepastian)
- Hadis ini tidak memberikan angka matematis, tetapi deskripsi kualitatif.
- Sebagian penjelasan kontemporer menggunakan pendekatan ilustratif:
- Jarak pandang ≈ beberapa kilometer
- Jika diasumsikan satu langkah dalam satuan waktu sangat singkat, maka muncul gambaran ±10 km per detik.
⚠️ Catatan Penting:
Angka tersebut bukan dalil syar‘i, melainkan ilustrasi logis agar jama’ah memahami bahwa Buraq:
- Sangat cepat
- Namun masih terikat ruang dan jarak
3. Mi‘raj: Pendakian Vertikal bersama Jibril
Setelah tiba di Masjidil Aqsha, Rasulullah ﷺ Mi‘raj, yaitu naik menembus lapisan langit bersama Malaikat Jibril.
Dalil Hadis Muttafaq ‘Alaih:
ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ
“Kemudian kami dinaikkan ke langit …”
(HR. Bukhari dan Muslim)⁴
Dalam Mi‘raj:
- Jibril meminta izin di setiap langit
- Nabi ﷺ bertemu para nabi terdahulu (Adam, Isa-Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Ibrahim, Musa)
- Menunjukkan bahwa Mi‘raj adalah wilayah malaikat, bukan wilayah makhluk bumi
4. Kecepatan Jibril: Melampaui Dimensi Ruang dan Waktu
Berbeda dengan Buraq, Jibril adalah malaikat, makhluk cahaya yang tidak terikat hukum fisika dunia.
Dalil Al-Qur’an:
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Para malaikat dan Ruh (Jibril) naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”
(QS. Al-Ma‘ārij: 4)⁵
Makna Ayat:
- Bukan rumus matematika,
- Tetapi penegasan perbedaan dimensi waktu dan kecepatan antara malaikat dan makhluk bumi.
- Inilah dasar mengapa kecepatan Jibril jauh melampaui Buraq.
➡️ Kesimpulan Rasional-Syar‘i:
- Isra’ (bumi) → cukup dengan Buraq
- Mi‘raj (langit) → harus dengan pendamping malaikat
5. Batas Pendampingan Jibril: Sidratul Muntaha
Poin aqidah yang sangat penting: Jibril tidak menemani Nabi ﷺ hingga bertemu Allah.
Dalil Hadis:
لَوْ تَقَدَّمْتُ احْتَرَقْتُ
“Seandainya aku maju selangkah lagi, niscaya aku akan terbakar.”
(HR. Ahmad)⁶
➡️ Makna Aqidah:
- Menunjukkan keutamaan eksklusif Rasulullah ﷺ
- Menolak klaim bahwa Jibril menemani Nabi hingga bertemu Allah
6. Kekeliruan yang Wajib Ditinggalkan
Beberapa klaim populer tanpa dasar shahih:
- Buraq menembus seluruh langit
- Jibril menemani Nabi hingga bertemu Allah
- Mi‘raj terjadi berkali-kali
- Mi‘raj hanya perjalanan ruhani
➡️ Semua ini tidak berdalil shahih dan bertentangan dengan manhaj ilmiah Ahlus Sunnah.
Penutup
Isra’ dan Mi‘raj adalah dua peristiwa agung yang berbeda sarana dan wilayahnya:
- Isra’ → Buraq → bumi
- Mi‘raj → Jibril → langit
- Sidratul Muntaha → Nabi ﷺ sendiri
Perbedaan “kecepatan” Buraq dan Jibril bukan soal angka, tetapi perbedaan hakikat makhluk dan dimensi tugas.
Meluruskan ini adalah bagian dari menjaga kemurnian aqidah dan dakwah berbasis dalil.
Footnote
- Al-Qur’an, QS. Al-Isrā’: 1
- Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Iman
- Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Iman
- Bukhari no. 349; Muslim no. 163
- Al-Qur’an, QS. Al-Ma‘ārij: 4
- Ahmad, Musnad Ahmad (hasan li ghairihi)
- Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Ma‘ārij
- Al-Qadhi ‘Iyadh, Asy-Syifā’, Bab Isra’ Mi‘raj
Wallahu A'lam


Posting Komentar