Meski Sama-sama NU, Mama Ghufron Berbeda dengan Kiai Imaduddin ‘Utsman Al-Bantani


Meski Sama-sama NU, Mama Ghufron Berbeda dengan Kiai Imaduddin ‘Utsman Al-Bantani

(Dalam Ilmu Nasab, Akidah, dan Akhlak Dakwah)

Pendahuluan

Di tengah masyarakat awam sering muncul anggapan bahwa kesamaan organisasi keagamaan (NU) otomatis menunjukkan kesamaan manhaj keilmuan dan sikap dakwah. Padahal, secara ilmiah dan faktual, afiliasi struktural tidak identik dengan keseragaman epistemologi, metodologi, dan akhlak ilmiah.

Kasus perbandingan antara Mama Ghufron dan Kiai Imaduddin ‘Utsman Al-Bantani menjadi contoh nyata: meskipun sama-sama berlatar NU, terdapat perbedaan mendasar dalam ilmu nasab, akidah, dan akhlak dakwah.


1. Perbedaan dalam Ilmu Nasab

A. Prinsip Ilmu Nasab dalam Islam

Ilmu nasab dalam Islam bukan sekadar klaim verbal atau popularitas sosial, tetapi ilmu riwayah dan dirayah yang mensyaratkan:

  • Sanad yang muttashil
  • Dokumen historis yang dapat diverifikasi
  • Kesaksian ahli nasab (nuqabā’)
  • Konsistensi data lintas generasi

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ
“Pelajarilah nasab kalian agar kalian dapat menyambung silaturahmi.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa nasab adalah ilmu, bukan klaim emosional atau alat legitimasi sosial.

B. Titik Beda

  • Kiai Imaduddin ‘Utsman Al-Bantani dikenal menempatkan ilmu nasab pada kerangka ilmiah, verifikatif, dan berhati-hati, tidak mudah mengafirmasi klaim tanpa bukti.
  • Mama Ghufron, dalam sejumlah narasi dan sikap publik, dinilai lebih longgar dalam memandang validitas klaim nasab, sehingga berpotensi membuka ruang tahayul, kultus figur, dan klaim tanpa standar ilmiah.

Catatan ilmiah: Perbedaan ini bukan soal NU atau bukan NU, melainkan perbedaan epistemologi ilmu nasab.


2. Perbedaan dalam Akidah (Manhaj Beragama)

A. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Akidah Aswaja menempatkan:

  • Tauhid murni
  • Penolakan terhadap ghuluw (berlebihan)
  • Penutupan pintu khurafat dan mitos supranatural

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ
“Katakanlah: sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian, yang diberi wahyu.”
(QS. Al-Kahfi: 110)

Ayat ini menegaskan bahwa bahkan Nabi ﷺ pun tidak dilebihkan secara ghaib di luar wahyu, apalagi selain beliau.

B. Titik Beda

  • Kiai Imaduddin konsisten membatasi agama pada dalil sahih dan rasionalitas Aswaja, serta tegas menolak narasi supranatural yang tidak berdalil.
  • Mama Ghufron cenderung membiarkan—bahkan memelihara—narasi karamah, keistimewaan dzuriyah, atau simbol-simbol sakral yang tidak selalu teruji secara akidah dan dalil.

Ini berpotensi menggeser tauhid dari penghambaan kepada Allah menuju pengagungan figur.


3. Perbedaan dalam Akhlak Dakwah dan Etika Ilmiah

A. Akhlak Ulama dalam Berdakwah

Akhlak dakwah ulama Aswaja dicirikan oleh:

  • Tawadhu’
  • Kehati-hatian berbicara
  • Menjaga umat dari kebingungan
  • Mendahulukan maslahat umum

Imam Malik رحمه الله berkata:

مَنْ أَجَابَ فِي كُلِّ مَا يُسْأَلُ فَهُوَ مَجْنُونٌ
“Orang yang menjawab semua pertanyaan tanpa kehati-hatian adalah orang yang gegabah.”

B. Titik Beda

  • Kiai Imaduddin dikenal menjaga adab khilaf, kehati-hatian ilmiah, dan tidak mengeksploitasi emosi jamaah.
  • Mama Ghufron, dalam praktik dakwah tertentu, dinilai lebih menonjolkan retorika emosional dan simbol ketokohan, yang rawan menutup ruang kritik ilmiah.

4. NU Bukan Jaminan Keseragaman Ilmu dan Sikap

Perlu ditegaskan:

  • NU adalah jam’iyyah ijtima’iyyah, bukan lembaga penyeragaman nalar.
  • Ulama NU sendiri berbeda-beda dalam kedalaman ilmu, metodologi, dan kehati-hatian akidah.

KH. Hasyim Asy’ari رحمه الله menegaskan bahwa:

Kebenaran tidak diukur dari siapa yang berbicara, tetapi dari dalil dan hujjahnya.


Penutup: Ukur Ulama dengan Ilmu, Bukan Label

Perbedaan antara Mama Ghufron dan Kiai Imaduddin ‘Utsman Al-Bantani menunjukkan satu pelajaran penting:

Kesamaan NU tidak otomatis berarti kesamaan ilmu nasab, akidah, dan akhlak.

Umat dituntut:

  • Cerdas membedakan ilmu dan simbol
  • Mengutamakan dalil dan metodologi
  • Menjaga tauhid dari kultus dan mitos

Semoga Allah ﷻ membimbing umat ini kepada agama yang murni, dakwah yang jujur, dan ilmu yang beradab.


Wallahu A'lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama