Setan Bisu Perspektif Islam

 

Setan Bisu Perspektif Islam | DRS. Hamzah Johan
Artikel Ilmiah Islami • Kajian Kontemporer

SETAN BISU
PERSPEKTIF ISLAM

Ketika Kebenaran Dibungkam, Kemungkaran Dibiarkan, dan Nurani Kehilangan Keberanian

IDE KREATOR: DRS. HAMZAH JOHAN

A. Pendahuluan

Dalam kehidupan manusia, kejahatan tidak selalu berkembang karena banyaknya orang yang melakukan kemungkaran. Terkadang, kemungkaran justru semakin kuat karena banyak orang mengetahui kebenaran, tetapi memilih diam.

السَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ
As-sākitu 'anil-haqqi syaiṭānun akhras.
“Orang yang diam terhadap kebenaran adalah setan yang bisu.”

Ungkapan ini dikenal sebagai peringatan moral tentang bahaya membiarkan kebatilan. Namun, perlu ditegaskan bahwa ungkapan tersebut bukan hadis Nabi Muhammad ﷺ yang dapat dipastikan kesahihannya. Ungkapan ini populer sebagai kata hikmah dan sering dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, tetapi penisbatan tersebut memerlukan verifikasi sumber.

B. Landasan Al-Qur'an dan Hadis

1. Kewajiban menegakkan kebenaran

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapakmu, dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135).

Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran dan keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan pribadi, hubungan keluarga, jabatan, maupun kekuasaan.

2. Larangan membiarkan kemungkaran

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Ayat ini menjadi landasan penting konsep amar makruf nahi mungkar.

3. Hadis tentang mengubah kemungkaran

مَنْ رَأَىٰ مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Artinya: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 49).

Hadis ini menunjukkan tingkatan tanggung jawab dalam menghadapi kemungkaran sesuai kemampuan, kewenangan, dan pertimbangan kemaslahatan.

C. Analisis Konseptual: Siapa yang Disebut Setan Bisu?

Istilah “setan bisu” bukan berarti manusia berubah menjadi setan secara hakiki. Istilah tersebut merupakan metafora moral untuk menggambarkan perilaku membiarkan kebatilan berkembang melalui sikap diam yang tidak bertanggung jawab.

  1. السُّكُوتُ عَنِ الْبَاطِلِ — Diam terhadap kebatilan.
  2. خَوْفُ الْمَصْلَحَةِ — Takut kehilangan kepentingan pribadi.
  3. تَبْرِيرُ الظُّلْمِ — Membenarkan atau mencari alasan bagi kezaliman.
  4. خِيَانَةُ الْأَمَانَةِ — Mengkhianati amanah ketika mempunyai kewajiban menyampaikan kebenaran.
  5. تَطْبِيعُ الْمُنْكَرِ — Membiasakan dan menganggap kemungkaran sebagai sesuatu yang normal.

D. Fenomena Setan Bisu dalam Kehidupan Kontemporer

1. Dalam kepemimpinan dan pemerintahan

Ketika pejabat mengetahui penyimpangan, penyalahgunaan wewenang, atau ketidakadilan, tetapi memilih diam demi mempertahankan jabatan.

2. Dalam organisasi dan kelembagaan

Ketika pengurus mengetahui pelanggaran prosedur, penyimpangan anggaran, konflik kepentingan, atau manipulasi laporan, tetapi tidak berani melakukan koreksi.

3. Dalam kehidupan sosial

Ketika seseorang menyaksikan perundungan, kekerasan, penindasan, dan diskriminasi, tetapi memilih tidak peduli.

4. Dalam dunia digital

Ketika masyarakat mengetahui penyebaran fitnah, hoaks, manipulasi informasi, dan ujaran kebencian, tetapi justru membiarkannya berkembang.

5. Dalam lingkungan keluarga

Ketika mengetahui adanya ketidakadilan dan perilaku merusak dalam keluarga, tetapi tidak berusaha memberikan nasihat dan perlindungan kepada pihak yang dirugikan.

E. Mengapa Manusia Memilih Diam?

  • Takut kehilangan jabatan, pekerjaan, atau kedudukan.
  • Ketergantungan terhadap kekuasaan dan materi.
  • Budaya ABS (Asal Bapak Senang).
  • Lemahnya integritas dan keberanian moral.
  • Menganggap urusan orang lain bukan tanggung jawabnya.
  • Khawatir menghadapi konflik.
  • Mengutamakan kepentingan pribadi daripada kemaslahatan bersama.

F. Dampak Sosial dan Peradaban

Apabila budaya diam terhadap kebatilan terus berkembang, akan muncul beberapa dampak:

  1. Kebenaran kehilangan ruang untuk berkembang.
  2. Kezaliman memperoleh legitimasi sosial.
  3. Pelanggaran menjadi kebiasaan.
  4. Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga menurun.
  5. Pemimpin kehilangan mekanisme koreksi.
  6. Generasi muda mewarisi budaya ketakutan dan ketidakpedulian.

Dalam perspektif Islam, kerusakan sosial bukan hanya persoalan pelaku kejahatan, tetapi juga berkaitan dengan hilangnya tanggung jawab kolektif untuk memperbaiki keadaan.

G. Pengecualian: Tidak Semua Diam Adalah Dosa

Islam tidak mengajarkan bahwa setiap orang harus selalu berbicara dalam semua keadaan. Diam dapat menjadi pilihan yang benar apabila:

  • Tidak mempunyai pengetahuan yang cukup.
  • Berbicara justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
  • Menghadapi ancaman nyata dan tidak mempunyai kemampuan untuk bertindak.
  • Sedang mengumpulkan bukti dan melakukan tindakan melalui jalur yang tepat.
  • Memilih waktu dan cara yang lebih bijaksana untuk memberikan nasihat.
الْحِكْمَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ
Hikmah dalam perkataan dan perbuatan.

Amar makruf nahi mungkar harus memperhatikan ilmu, kemampuan, adab, kewenangan, serta akibat yang mungkin ditimbulkan.

H. Solusi Islam: Membangun Keberanian Moral

  1. تَقْوِيَةُ الْإِيمَانِ — Memperkuat iman. Menjadikan Allah sebagai orientasi utama, bukan penilaian manusia.
  2. الشَّجَاعَةُ الْأَخْلَاقِيَّةُ — Keberanian moral. Berani menyampaikan kebenaran dengan cara santun dan bertanggung jawab.
  3. الْعَدَالَةُ — Menegakkan keadilan. Tidak membedakan perlakuan berdasarkan jabatan, kekayaan, kedekatan, maupun kekuasaan.
  4. النَّصِيحَةُ — Membudayakan nasihat. Membangun budaya saling mengingatkan, bukan saling menjatuhkan.
  5. الْمُسَاءَلَةُ — Membangun akuntabilitas. Mendorong transparansi, pengawasan, evaluasi, dan mekanisme pengaduan yang dapat dipercaya.

I. Refleksi dan Kesimpulan

Ada tiga kelompok manusia ketika berhadapan dengan kemungkaran:

  1. Orang yang melakukan kemungkaran.
  2. Orang yang mengetahui kemungkaran tetapi membiarkannya tanpa alasan yang dibenarkan.
  3. Orang yang berusaha memperbaiki kemungkaran dengan ilmu, keberanian, dan kebijaksanaan.

Pertanyaannya bukan hanya: “Siapa yang melakukan kesalahan?” Namun, juga: “Siapa yang mengetahui kesalahan itu, mempunyai kemampuan untuk memperbaikinya, tetapi memilih membiarkannya?”

Setan bisu merupakan ungkapan metaforis yang mengingatkan manusia tentang bahaya membungkam kebenaran dan membiarkan kemungkaran. Dalam Islam, seorang mukmin dituntut memiliki kepedulian sosial, keberanian moral, dan tanggung jawab amar makruf nahi mungkar sesuai kemampuan serta ketentuan syariat.

Berani berkata benar, bijaksana dalam bertindak, adil dalam menilai, dan amanah dalam menjalankan tanggung jawab.

Jangan menjadi bagian dari orang-orang yang memperkuat kezaliman melalui pembiaran. Namun, jangan pula menggunakan alasan membela kebenaran untuk melakukan fitnah, kekerasan, atau tindakan tanpa ilmu.

J. Catatan Referensi

  1. Al-Qur'an, QS. Ali Imran: 104.
  2. Al-Qur'an, QS. An-Nisa: 135.
  3. Al-Qur'an, QS. Al-Maidah: 78–79.
  4. Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, hadis no. 49.
  5. Shahih Muslim, hadis tentang agama adalah nasihat, no. 55.
  6. Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, pembahasan amar makruf nahi mungkar.
Catatan ilmiah: Ungkapan “as-sākitu 'anil-haqqi syaiṭānun akhras” bukan hadis Nabi yang terverifikasi kesahihannya. Jangan menisbatkannya sebagai sabda Rasulullah ﷺ tanpa bukti takhrij yang kuat.

وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Wallahu a'lam bish shawab.

KREATOR: DRS. HAMZAH JOHAN
Artikel kajian Islami kontemporer • DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama