RAHASIA TERSEMBUNYI MENGAPA ALLAH MEMILIH HARI JUMAT
Telaah Ilmiah-Islami Kontemporer tentang Keistimewaan Sayyidul Ayyām
Ide Kreator: DRS. HAMZAH JOHAN
Pendahuluan
Dalam Islam, hari Jumat bukan sekadar pergantian hari dalam kalender. Jumat memiliki kedudukan khusus yang tidak diberikan kepada hari-hari lain. Ia menjadi hari berkumpulnya kaum Muslimin dalam shalat Jumat, hari yang memiliki waktu mustajab untuk berdoa, dan hari yang secara khusus dikaitkan dengan sejumlah peristiwa besar dalam perjalanan penciptaan manusia.
Namun, pertanyaan yang menarik adalah:
Mengapa Allah memilih hari Jumat sebagai hari yang memiliki berbagai keutamaan tersebut?
Al-Qur'an tidak menjelaskan secara eksplisit satu alasan tunggal mengapa Jumat dipilih. Karena itu, istilah “rahasia” dalam tulisan ini bukan berarti mengklaim mengetahui hikmah Allah secara pasti, melainkan menunjuk kepada hikmah yang dapat dipahami manusia dari Al-Qur'an, Sunnah, dan kajian para ulama.
1. Jumat adalah Hari yang Allah Pilih
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ أَضَلَّ عَنْ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا، فَكَانَ لِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ، وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ الْأَحَدِ، فَجَاءَ اللَّهُ بِنَا فَهَدَانَا اللَّهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ
“Sesungguhnya Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita dari hari Jumat. Kaum Yahudi memilih hari Sabtu dan kaum Nasrani memilih hari Ahad. Kemudian Allah datang dengan membawa kita dan Allah memberi petunjuk kepada kita kepada hari Jumat.”[1]
Hadis ini menunjukkan bahwa Jumat memiliki dimensi wahyu dan petunjuk Ilahi, bukan sekadar kesepakatan sosial manusia.
2. Jumat dan Identitas Umat Islam
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”
(QS. Al-Jumu‘ah [62]: 9)
Perhatikan struktur ayat tersebut.
Allah tidak hanya memerintahkan manusia melaksanakan shalat, tetapi terlebih dahulu menyebut:
فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ
“Maka bersegeralah menuju mengingat Allah.”
Dengan demikian, Jumat memiliki fungsi rekonstruksi spiritual mingguan.
Selama enam hari manusia berhadapan dengan pekerjaan, bisnis, target, keluarga, teknologi, ekonomi, dan berbagai persoalan dunia.
Jumat datang untuk mengingatkan:
manusia bukan hanya makhluk ekonomi, tetapi juga makhluk spiritual.
3. Mengapa Disebut Jumu‘ah?
Kata Jumu‘ah (الجمعة) berasal dari akar kata:
ج م ع
yang memiliki makna berkumpul.
Shalat Jumat mempertemukan manusia dalam satu ruang ibadah tanpa membedakan:
- kaya dan miskin,
- pejabat dan rakyat,
- pengusaha dan pekerja,
- tua dan muda,
- kuat dan lemah.
Semua berdiri dalam satu saf menghadap kiblat.
Di sinilah terdapat salah satu hikmah sosial yang sangat kuat:
Jumat menghapus sementara sekat-sekat sosial manusia di hadapan Allah.
Dalam perspektif sosiologi agama, ritual bersama dapat membangun identitas kolektif, solidaritas, dan rasa memiliki terhadap komunitas.[2]
Maka Jumat dapat dipahami sebagai ritual spiritual sekaligus mekanisme penguatan ukhuwah umat.
4. Jumat dan Penciptaan Manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu ia dikeluarkan darinya.”[3]
Hadis ini menarik secara teologis.
Jumat dikaitkan dengan Adam, manusia pertama.
Dengan demikian, Jumat dapat menjadi pengingat mingguan tentang:
dari mana manusia berasal → untuk apa manusia hidup → ke mana manusia akan kembali.
Jumat bukan hanya berbicara tentang waktu.
Jumat berbicara tentang eksistensi manusia.
5. Jumat Menghubungkan Awal dan Akhir Kehidupan
Hadis lain menyebut:
وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ
“Dan Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.”[4]
Jika hadis penciptaan Adam dan hadis tentang Kiamat dibaca secara bersamaan, muncul sebuah refleksi teologis:
Jumat mengingatkan manusia tentang perjalanan besar kehidupan:
Penciptaan → Kehidupan → Kematian → Kebangkitan → Akhirat.
Namun perlu ditegaskan, hadis tersebut tidak memberikan tanggal atau waktu Kiamat secara spesifik. Pengetahuan tentang kapan Kiamat terjadi tetap merupakan perkara gaib yang hanya diketahui Allah.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ
“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang Hari Kiamat.”
(QS. Luqman [31]: 34)
6. Ada “Satu Jam” yang Sangat Berharga
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat suatu waktu yang apabila seorang Muslim mendapatinya dalam keadaan berdiri melaksanakan shalat lalu ia memohon kepada Allah sesuatu, niscaya Allah memberikannya kepadanya.”[5]
Para ulama berbeda pendapat mengenai penentuan waktu tersebut.
Di antara pendapat yang kuat adalah:
antara duduknya imam sampai selesainya shalat Jumat, dan setelah Ashar hingga Maghrib, khususnya pada akhir waktu Jumat.[6]
Perbedaan pendapat ini justru mengajarkan satu hal:
Jangan mencari “satu menit ajaib” lalu meninggalkan doa sepanjang Jumat.
Lebih selamat secara spiritual adalah memperbanyak doa sepanjang hari Jumat, terutama pada waktu-waktu yang memiliki dasar dari Sunnah.
7. Mengapa Ada Shalat Jumat?
Allah berfirman:
فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”
(QS. Al-Jumu‘ah [62]: 9)
Menariknya, yang diperintahkan untuk ditinggalkan secara eksplisit adalah:
الْبَيْعَ — transaksi jual beli.
Mengapa?
Karena salah satu penyakit manusia adalah terlalu larut dalam aktivitas dunia.
Maka Jumat menghadirkan semacam:
“Spiritual Reset Mingguan.”
Manusia berhenti sejenak dari aktivitas ekonomi untuk kembali kepada sumber kehidupan:
Allah سبحانه وتعالى.
Setelah shalat selesai, Allah justru berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah...”
(QS. Al-Jumu‘ah [62]: 10)
Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mempertentangkan ibadah dan aktivitas ekonomi.
Jumat mengajarkan:
berhenti dari dunia untuk mengingat Allah, kemudian kembali kepada dunia dengan kesadaran kepada Allah.
8. Jumat sebagai “Audit Spiritual” Mingguan
Jika konsep Jumat ditarik ke dalam perspektif kontemporer, kita dapat melihatnya sebagai momentum muhasabah mingguan.
Manusia dapat bertanya:
Audit Akidah
Apakah tauhid saya semakin kuat?
Audit Ibadah
Apakah shalat saya semakin baik?
Audit Akhlak
Apakah saya semakin jujur dan amanah?
Audit Muamalah
Apakah penghasilan saya halal?
Audit Sosial
Apakah keberadaan saya memberikan manfaat kepada orang lain?
Audit Waktu
Ke mana waktu saya selama satu minggu?
Audit Harta
Dari mana harta saya diperoleh dan ke mana dibelanjakan?
Jumat dengan demikian bukan sekadar ritual mingguan, tetapi dapat menjadi checkpoint kehidupan seorang Muslim.
9. Rahasia yang Lebih Dalam: Jumat Mengajarkan Keseimbangan
Jumat memiliki dua gerakan yang tampaknya berlawanan:
TINGGALKAN DUNIA → INGAT ALLAH
kemudian:
SELESAI IBADAH → KEMBALI KE DUNIA
Inilah keseimbangan Islam.
Islam tidak mengajarkan manusia melarikan diri dari dunia.
Tetapi Islam juga tidak membiarkan manusia diperbudak dunia.
Allah berfirman:
وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash [28]: 77)
Dunia digunakan sebagai sarana, bukan dijadikan tujuan akhir.
10. Jumat dan Kesehatan Psikologis
Dalam perspektif psikologi kontemporer, manusia membutuhkan jeda dari aktivitas yang terus-menerus.
Konsep modern seperti:
- reflection,
- mindfulness,
- social connectedness,
- communal ritual,
- gratitude,
- meaning-making,
memiliki titik temu tertentu dengan praktik keagamaan, meskipun konsep-konsep tersebut tidak identik dengan ibadah Islam.
Jumat menyediakan ruang untuk:
berhenti → berkumpul → mendengar nasihat → berdoa → beribadah → bermuhasabah → kembali beraktivitas.
Dengan demikian, Jumat dapat berfungsi sebagai ritme spiritual mingguan yang membantu manusia menjaga orientasi hidupnya.
11. Jumat Bukan Hari untuk Bermalas-malasan
Ada kesalahpahaman bahwa Jumat adalah hari untuk “libur dari dunia”.
Al-Qur'an justru mengatakan setelah shalat Jumat:
فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ
“Maka bertebaranlah kamu di bumi.”
Kemudian:
وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
“Dan carilah karunia Allah.”
Maka paradigma Jumat bukan:
Ibadah ATAU bekerja.
Tetapi:
Ibadah → bekerja dengan kesadaran kepada Allah.
12. Formula Filosofis Hari Jumat
Jika dirumuskan secara sederhana:
SENIN–KAMIS
Produktivitas
↓
JUMAT
Refleksi + Ibadah + Ukhuwah
↓
SABTU–AHAD
Aktivitas + Evaluasi
↓
KEMBALI KE SIKLUS BERIKUTNYA
Jumat menjadi semacam titik orientasi spiritual mingguan.
Ia mengingatkan manusia:
“Jangan sampai kesibukan mencari kehidupan membuatmu lupa kepada Pemilik kehidupan.”
13. Pesan Jumat bagi Manusia Modern
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, manusia menghadapi:
- information overload,
- tekanan pekerjaan,
- persaingan ekonomi,
- media sosial,
- materialisme,
- individualisme,
- kecemasan masa depan,
- dan krisis makna.
Jumat memberikan sebuah pesan sederhana:
BERHENTILAH SEJENAK.
Datanglah kepada Allah.
Dengarkan khutbah.
Tinggalkan transaksi.
Berkumpullah dengan sesama Muslim.
Perbarui iman.
Perbanyak shalawat.
Berdoalah.
Muhasabahlah.
Kemudian kembalilah bekerja.
Tetapi kali ini:
dengan hati yang lebih dekat kepada Allah.
Kesimpulan
Allah tidak menjelaskan kepada manusia seluruh alasan mengapa Jumat dipilih sebagai hari yang istimewa. Karena itu, manusia harus membedakan antara dalil yang tegas dan hikmah yang dapat direnungkan.
Dalil-dalil menunjukkan bahwa Jumat memiliki kedudukan khusus: ia merupakan hari terbaik dalam sepekan, dikaitkan dengan penciptaan Adam, memiliki shalat Jumat, memiliki waktu mustajab untuk berdoa, dan memiliki hubungan dengan peristiwa akhir zaman.[3][5]
Adapun hikmah yang dapat kita renungkan adalah bahwa Jumat menjadi siklus spiritual mingguan:
BERHENTI → INGAT ALLAH → BERKUMPUL → MUHASABAH → BERDOA → KEMBALI BERAKTIVITAS.
Maka mungkin salah satu “rahasia” terbesar Jumat bukan sekadar bahwa Jumat adalah hari yang istimewa, tetapi bahwa Allah memberi manusia kesempatan setiap pekan untuk kembali mengingat siapa dirinya, dari mana ia berasal, kepada siapa ia akan kembali, dan untuk apa ia menjalani kehidupan.
Jumat bukan sekadar hari dalam kalender.
Jumat adalah panggilan untuk kembali mengatur arah kehidupan.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 152)
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Ide Kreator:
DRS. HAMZAH JOHAN
Catatan Kaki
[1] Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jumu‘ah, hadis tentang umat terdahulu dan keutamaan Jumat.
[2] Émile Durkheim, The Elementary Forms of Religious Life, pembahasan mengenai ritual kolektif, solidaritas sosial, dan pembentukan kesadaran kolektif.
[3] Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jumu‘ah, hadis Abū Hurairah tentang keutamaan hari Jumat dan penciptaan Adam.
[4] Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Fitan wa Asyrāṭ al-Sā‘ah, hadis mengenai terjadinya Kiamat pada hari Jumat.
[5] Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Jumu‘ah; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jumu‘ah, tentang waktu mustajab pada hari Jumat.
[6] Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, pembahasan mengenai perbedaan pendapat ulama tentang sā‘ah al-ijābah pada hari Jumat.


Posting Komentar