BERDAMAI DENGAN HAL YANG TAK BISA DIUBAH

BERDAMAI DENGAN HAL YANG TAK BISA DIUBAH

Belajar Menerima Takdir, Melepaskan Penyesalan, dan Mengarahkan Energi kepada Hal yang Masih Bisa Diperbaiki

Oleh: Drs. Hamzah Johan


Pendahuluan: Tidak Semua Hal Harus Kita Menangkan

Ada hal-hal dalam kehidupan yang dapat kita ubah.

Kita dapat memperbaiki kesalahan, meningkatkan kemampuan, meminta maaf, belajar lebih baik, mengubah kebiasaan, memperbaiki hubungan, dan berusaha mencari jalan keluar.

Namun ada pula hal-hal yang berada di luar kendali manusia:

masa lalu yang telah berlalu, keputusan orang lain, kehilangan yang sudah terjadi, waktu yang tidak dapat diputar kembali, sebagian keadaan yang tidak dapat kita pilih, serta hasil akhir setelah seluruh ikhtiar dilakukan.

Di sinilah manusia sering mengalami kelelahan batin.

Bukan hanya karena masalahnya berat, tetapi karena kita terus berusaha mengubah sesuatu yang memang sudah tidak berada dalam kendali kita.

Kita berkata:

"Seandainya waktu itu aku memilih berbeda..."

"Seandainya dia tidak melakukan itu..."

"Seandainya keadaan tidak seperti sekarang..."

"Seandainya masa lalu bisa diulang..."

Padahal kehidupan tidak berjalan dengan kata "seandainya".

Islam mengajarkan manusia untuk berikhtiar sebelum sesuatu terjadi, dan berserah kepada Allah setelah sesuatu yang berada di luar kendali terjadi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ»

"Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata: 'Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.' Tetapi katakanlah: 'Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.'"

(HR. Muslim no. 2664).

Hadis ini sangat penting.

Ia tidak mengajarkan pasrah sebelum berusaha.

Sebaliknya:

sebelum terjadi → ikhtiar.

ketika terjadi → sabar dan menerima ketetapan Allah.

setelah terjadi → evaluasi dan mengambil pelajaran.


1. مَفْهُومُ الرِّضَا — Memahami Makna Berdamai

Berdamai dengan keadaan bukan berarti mengatakan bahwa semua yang terjadi itu menyenangkan.

Berdamai berarti:

menerima kenyataan sebagai kenyataan, tanpa terus-menerus memusuhi masa lalu di dalam hati.

Seseorang boleh sedih.

Boleh menangis.

Boleh kecewa.

Boleh merasa kehilangan.

Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri pernah menangis ketika kehilangan orang yang dicintainya.

Yang perlu dihentikan bukanlah perasaan, tetapi siklus batin yang terus-menerus berkata:

"Aku harus mengubah sesuatu yang sudah tidak mungkin berubah."

Di sinilah konsep قَبُول — qabūl atau penerimaan menjadi penting.

Penerimaan bukan berarti menyetujui semua yang terjadi.

Penerimaan berarti mengakui:

"Ini sudah terjadi. Aku tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi aku masih dapat menentukan bagaimana aku menjalani hari ini."


2. قَضَاءٌ وَقَدَرٌ — Belajar Berdamai dengan Ketetapan Allah

Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan ia menanggung akibat dari kejahatan yang diperbuatnya."

QS. Al-Baqarah [2]: 286.

Ayat ini mengajarkan keseimbangan yang sangat penting:

Manusia memiliki tanggung jawab atas apa yang dapat diusahakannya.

Tetapi manusia juga memiliki keterbatasan.

Tidak semua hasil berada di tangannya.

Karena itu, seorang mukmin tidak mengukur keberhasilan hanya berdasarkan hasil akhir.

Ia juga mengukurnya berdasarkan:

  • apakah sudah berusaha;
  • apakah niatnya benar;
  • apakah caranya benar;
  • apakah ia telah meminta pertolongan Allah;
  • apakah ia tetap menjaga akhlak;
  • dan apakah setelah hasil tidak sesuai harapan ia mampu bersabar.

3. الْفَرْقُ بَيْنَ التَّسْلِيمِ وَالِاسْتِسْلَامِ

Ada perbedaan antara taslīm dan istislām.

التَّسْلِيم — At-Taslīm

Menerima ketetapan Allah setelah melakukan ikhtiar.

الِاسْتِسْلَام — Al-Istislām

Menyerah sebelum berusaha.

Islam tidak mengajarkan kemalasan dengan alasan takdir.

Nabi ﷺ justru bersabda:

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ»

"Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau lemah."

HR. Muslim no. 2664.

Maka prinsipnya:

Berusaha keras tanpa merasa berkuasa atas hasil.

Itulah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakkal.


4. عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ — Keajaiban Sikap Seorang Mukmin

Rasulullah ﷺ bersabda:

«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

"Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya."

HR. Muslim no. 2999.

Perhatikan:

Nabi ﷺ tidak mengatakan bahwa orang beriman tidak akan mengalami kesulitan.

Justru kesulitan tetap ada.

Yang berubah adalah cara seorang mukmin memaknai kesulitan tersebut.

Kesulitan tidak selalu menjadi akhir.

Kadang ia menjadi:

  • guru;
  • peringatan;
  • jalan pendewasaan;
  • penghapus dosa;
  • penguat jiwa;
  • pengarah kehidupan;
  • atau pintu menuju sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.

5. PENELITIAN PSIKOLOGI: MENGAPA SULIT MENERIMA KENYATAAN?

Dalam psikologi modern, manusia memiliki kecenderungan untuk terus memikirkan kejadian yang tidak sesuai dengan harapan.

Salah satu bentuknya adalah rumination, yaitu pola berpikir berulang mengenai masalah, kesalahan masa lalu, atau kemungkinan negatif tanpa menghasilkan penyelesaian yang konstruktif.

Jika berlangsung terus-menerus, pola tersebut dapat memperbesar tekanan emosional.

Karena itu, pendekatan psikologis modern banyak menekankan kemampuan:

acceptance

menerima kenyataan yang tidak dapat dikendalikan;

cognitive flexibility

kemampuan melihat situasi dari perspektif yang lebih luas;

problem solving

memusatkan perhatian kepada hal-hal yang masih dapat diperbaiki;

self-compassion

memperlakukan diri dengan lebih manusiawi ketika mengalami kegagalan.

Dalam perspektif Islam, pendekatan tersebut dapat dipadukan dengan:

الصَّبْر — aṣ-ṣabr

التَّوَكُّل — at-tawakkul

الرِّضَا — ar-riḍā

حُسْنُ الظَّنِّ بِاللَّهِ — ḥusnuẓ-ẓann billāh

dan

الاسْتِعَانَةُ بِاللَّهِ — al-isti‘ānah billāh.

Dengan demikian, penerimaan bukan sekadar teknik psikologis, tetapi dapat menjadi bagian dari pendidikan spiritual.


6. DAMPAK KETIDAKMAMPUAN MENERIMA HAL YANG SUDAH TERJADI

Jika seseorang terus berperang dengan kenyataan yang tidak dapat diubah, beberapa dampak dapat muncul.

أ. Dampak psikologis

  • pikiran berulang;
  • rasa bersalah berlebihan;
  • kecemasan;
  • sulit berkonsentrasi;
  • mudah tersinggung;
  • kelelahan emosional;
  • kesulitan menikmati kehidupan sekarang.

ب. Dampak spiritual

Seseorang dapat terlalu sibuk mempertanyakan:

"Mengapa Allah membiarkan ini terjadi?"

hingga lupa bertanya:

"Apa yang Allah ingin aku pelajari dari keadaan ini?"

Perubahan pertanyaan dapat mengubah arah kehidupan.

Bukan:

"Mengapa ini terjadi kepadaku?"

tetapi:

"Apa yang dapat aku lakukan dengan keadaan yang telah terjadi ini?"


7. KISAH: NABI YA'QUB عَلَيْهِ السَّلَام

Salah satu gambaran paling indah tentang kesedihan dalam Al-Qur'an adalah kisah Nabi Ya'qub عليه السلام ketika kehilangan Yusuf عليه السلام.

Allah menggambarkan kesedihannya:

وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

"Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, 'Alangkah sedihnya aku terhadap Yusuf.' Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah serta kesedihannya."

QS. Yusuf [12]: 84.

Perhatikan.

Nabi Ya'qub tidak kehilangan rasa sedih.

Namun kesedihan itu tidak membuatnya kehilangan Allah.

Kemudian ia berkata:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

"Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku."

QS. Yusuf [12]: 86.

Ini adalah pelajaran besar:

Menerima takdir bukan berarti tidak boleh menangis.

Tawakkal bukan berarti tidak boleh merasa sedih.

Sabar bukan berarti tidak memiliki perasaan.

Sabar adalah kemampuan membawa perasaan itu menuju Allah, bukan membiarkannya menghancurkan diri.


8. حُسْنُ الظَّنِّ بِاللَّهِ — Jangan Menilai Masa Depan dari Luka Hari Ini

Manusia sering melihat satu halaman kemudian mengira seluruh bukunya telah selesai.

Padahal Allah mengetahui seluruh cerita.

Sesuatu yang hari ini terasa sebagai kehilangan, mungkin kelak menjadi jalan menuju kedewasaan.

Sesuatu yang hari ini terasa sebagai kegagalan, mungkin menjadi pelajaran yang menyelamatkan kita dari kesalahan yang lebih besar.

Sesuatu yang hari ini tidak kita pahami, mungkin suatu hari akan kita syukuri.

Karena itu, seorang mukmin perlu menjaga:

حُسْنُ الظَّنِّ بِاللَّهِ

berbaik sangka kepada Allah.

Berbaik sangka bukan berarti yakin bahwa semua keinginan kita pasti diberikan.

Tetapi yakin bahwa Allah Mahabijaksana dalam mengatur kehidupan hamba-Nya.


9. BEDAKAN: APA YANG BISA DAN TIDAK BISA DIUBAH

Gunakan tabel sederhana berikut:

Tidak berada dalam kendali Masih berada dalam kendali
Masa lalu Sikap hari ini
Keputusan orang lain Cara merespons
Waktu yang telah berlalu Penggunaan waktu berikutnya
Hasil akhir setelah ikhtiar Kualitas ikhtiar
Perkataan orang lain Cara kita menyikapinya
Kehilangan yang telah terjadi Cara melanjutkan kehidupan
Kesalahan yang sudah terjadi Memperbaiki kesalahan
Takdir Allah Doa, ikhtiar, dan tawakkal

Inilah salah satu latihan mental dan spiritual yang sederhana:

Jangan habiskan energi untuk wilayah yang tidak lagi dapat kita kendalikan.


10. خَمْسُ خُطُوَاتٍ لِلسَّلَامِ الدَّاخِلِيِّ

Lima Langkah Berdamai dengan Kenyataan

1. الاِعْتِرَافُ — Al-I‘tirāf

Mengakui kenyataan

Katakan kepada diri:

"Ya, ini memang terjadi."

Jangan memalsukan kenyataan.

Jangan menyangkal rasa sakit.

Akui terlebih dahulu.


2. القَبُولُ — Al-Qabūl

Menerima apa yang tidak dapat diubah

Menerima bukan berarti menyukai.

Menerima berarti berhenti berperang dengan fakta.


3. التَّفْوِيضُ — At-Tafwīḍ

Menyerahkan hasil kepada Allah

Setelah berusaha:

"Ya Allah, aku telah berusaha. Aku serahkan hasilnya kepada-Mu."

Inilah wilayah tawakkal.


4. التَّعَلُّمُ — At-Ta‘allum

Mengambil pelajaran

Tanyakan:

  • Apa kesalahan saya?
  • Apa yang dapat saya perbaiki?
  • Apa yang dapat saya pelajari?
  • Apa yang seharusnya tidak saya ulangi?

Jangan biarkan penderitaan berlalu tanpa menghasilkan kebijaksanaan.


5. التَّقَدُّمُ — At-Taqaddum

Berjalan kembali

Setelah menerima, jangan tinggal di masa lalu.

Bangun.

Berdoa.

Bekerja.

Belajar.

Berbuat baik.

Melanjutkan kehidupan.

Karena masa lalu adalah tempat mengambil pelajaran, bukan tempat tinggal.


11. LATIHAN PRAKTIS: "3 KOTAK KEHIDUPAN"

Ambillah selembar kertas.

Buat tiga kolom:

KOTAK 1 — DAPAT SAYA KENDALIKAN

Tuliskan:

  • tindakan saya;
  • perkataan saya;
  • pilihan saya;
  • ibadah saya;
  • usaha saya;
  • cara saya merespons.

KOTAK 2 — DAPAT SAYA PENGARUHI

Misalnya:

  • hubungan dengan orang lain;
  • komunikasi;
  • lingkungan kerja;
  • kerja sama;
  • pendidikan keluarga.

KOTAK 3 — TIDAK DAPAT SAYA KENDALIKAN

Misalnya:

  • masa lalu;
  • keputusan orang lain;
  • hasil akhir;
  • apa yang telah berlalu;
  • perkara yang menjadi ketetapan Allah.

Kemudian lakukan satu hal:

Kurangi energi pada Kotak 3 dan tingkatkan amal pada Kotak 1.


12. DOA KETIKA HATI SULIT MENERIMA

Bacalah doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَلَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keridaan setelah ketetapan-Mu, kehidupan yang baik setelah kematian, kenikmatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu."

Selain itu, ketika hati dipenuhi penyesalan, renungkan kalimat Nabi ﷺ:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

"Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi."

HR. Muslim no. 2664.


13. HIKMAH BESAR: MELEPASKAN BUKAN BERARTI KALAH

Ada sesuatu yang harus kita pahami:

Melepaskan bukan berarti kalah.

Kadang melepaskan adalah bentuk keberanian.

Melepaskan dendam.

Melepaskan penyesalan.

Melepaskan keinginan untuk mengontrol orang lain.

Melepaskan masa lalu.

Melepaskan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.

Melepaskan sesuatu yang memang bukan lagi bagian dari kehidupan kita.

Karena tangan yang terus menggenggam masa lalu akan kesulitan menerima masa depan.


14. DUA KALIMAT YANG PERLU DIUBAH

Jangan terus berkata:

"Seandainya..."

Gantilah dengan:

"Apa yang dapat saya pelajari?"

Jangan terus berkata:

"Mengapa ini terjadi?"

Tambahkan:

"Apa yang dapat saya lakukan sekarang?"

Perubahan ini tampak sederhana.

Namun ia memindahkan perhatian dari ruminasi menuju tindakan.

Dari:

masa lalu → masa kini.

Dari:

penyesalan → pembelajaran.

Dari:

kontrol → tawakkal.

Dari:

kelemahan → ikhtiar.


15. KETIKA SESUATU TIDAK BISA DIUBAH, DIRI KITA MASIH BISA BERUBAH

Inilah salah satu prinsip kehidupan yang sangat penting.

Kita mungkin tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi.

Tetapi kita dapat mengubah:

cara memandangnya.

Kita mungkin tidak dapat mengubah orang lain.

Tetapi kita dapat mengubah:

cara kita meresponsnya.

Kita mungkin tidak dapat menghapus masa lalu.

Tetapi kita dapat mengubah:

masa depan yang lahir dari pelajaran masa lalu.

Kita mungkin tidak dapat menentukan semua kejadian.

Tetapi kita masih dapat menentukan:

iman, ikhtiar, akhlak, doa, dan respons kita.


16. KESIMPULAN

Berdamai dengan hal yang tidak bisa diubah adalah bentuk kedewasaan psikologis sekaligus latihan spiritual.

Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi pasif.

Islam mengajarkan:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

"Berusahalah pada apa yang bermanfaat bagimu."

Kemudian:

وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

"Mintalah pertolongan kepada Allah."

Kemudian:

وَلَا تَعْجَزْ

"Jangan menjadi lemah."

Dan apabila hasil akhirnya berada di luar kendali:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

"Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi."

Maka kedamaian bukan selalu datang ketika masalah selesai.

Kadang kedamaian datang ketika hati berhenti menuntut kehidupan agar selalu sesuai dengan keinginannya.

Kita belajar berkata:

"Ya Allah, aku menerima apa yang tidak mampu kuubah. Beri aku kekuatan untuk memperbaiki apa yang masih dapat kuusahakan, dan berikan aku hikmah untuk membedakan keduanya."

Sebab hidup bukan tentang mendapatkan semua yang kita inginkan.

Hidup adalah tentang menjalankan amanah sebaik-baiknya di tengah segala sesuatu yang Allah tetapkan.

Dan pada akhirnya:

Apa yang telah berlalu, jadikan pelajaran.

Apa yang sedang terjadi, hadapi dengan sabar.

Apa yang masih mungkin diperbaiki, perjuangkan.

Apa yang berada di luar kemampuan, serahkan kepada Allah.

Apa pun hasilnya, jangan kehilangan Allah.


RENUNGAN PENUTUP

Mungkin ada sesuatu yang sampai hari ini masih ingin kita ubah.

Sebuah keputusan.

Sebuah kehilangan.

Sebuah kegagalan.

Sebuah hubungan.

Sebuah masa lalu.

Sebuah kesempatan yang telah berlalu.

Hari ini mungkin waktunya berhenti bertanya:

"Bagaimana caranya mengubah masa lalu?"

Dan mulai bertanya:

"Bagaimana caranya membuat masa depanku lebih baik karena telah belajar dari masa lalu?"

Sebab tidak semua pintu yang tertutup harus kita dobrak.

Ada pintu yang memang harus kita tinggalkan.

Bukan karena kita kalah.

Tetapi karena Allah sedang mengajarkan kita:

tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki untuk membuat hidup kita bermakna.


REFERENSI / FOOTNOTE

[1] Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah [2]: 286. Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah tidak membebani jiwa melampaui kemampuannya dan menghubungkan tanggung jawab manusia dengan apa yang diusahakannya.

[2] Muslim ibn al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Qadar, hadis no. 2664: anjuran mengejar sesuatu yang bermanfaat, meminta pertolongan Allah, tidak menyerah, dan tidak larut dalam "seandainya" setelah suatu kejadian berlangsung.

[3] Muslim ibn al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Zuhd wa al-Raqā’iq, hadis no. 2999: keadaan orang beriman yang bersyukur ketika mendapatkan kesenangan dan bersabar ketika mendapatkan kesulitan.

[4] Al-Qur'an, QS. Yusuf [12]: 84–86, mengenai kesedihan Nabi Ya'qub عليه السلام dan pengaduannya kepada Allah.

[5] Prinsip psikologis mengenai rumination, penerimaan, fleksibilitas kognitif, dan self-compassion digunakan di sini sebagai kerangka konseptual untuk memahami respons manusia terhadap keadaan yang tidak dapat dikendalikan; istilah-istilah tersebut tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis atau terapi profesional.


________________________________________

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Wallahu a’lam bish shawab

— Ide Kreator: Drs. Hamzah Johan

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama