BELAJAR TENANG DI TENGAH DUNIA YANG BERISIK
Perspektif Islam, Psikologi, dan Seni Mengelola Kebisingan Kehidupan
Oleh: DRS. HAMZAH JOHAN
Pendahuluan
Kita hidup di zaman yang sangat berisik.
Bukan hanya suara kendaraan, televisi, pasar, atau keramaian manusia. Ada pula kebisingan informasi, media sosial, komentar orang lain, berita, perdebatan, tuntutan pekerjaan, ambisi, perbandingan hidup, dan pikiran sendiri.
Ironisnya, seseorang dapat berada sendirian di dalam kamar, tetapi pikirannya tetap penuh sesak.
Ada pesan yang belum dibalas. Ada komentar yang mengganggu hati. Ada berita yang membuat cemas. Ada perkataan seseorang yang terus terulang dalam ingatan. Ada masa depan yang belum terjadi tetapi sudah dipikirkan berkali-kali.
Karena itu, ketenangan bukan sekadar persoalan berada di tempat yang sunyi.
Ketenangan adalah kemampuan hati untuk tetap memiliki pusat kendali ketika dunia di luar diri sedang tidak tenang.
Islam memiliki konsep yang sangat dalam tentang keadaan ini: السَّكِينَةُ (as-sakīnah), ketenteraman yang Allah letakkan ke dalam hati orang-orang beriman.
1. السَّكِينَةُ — KETENANGAN YANG BERASAL DARI ALLAH
Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka.”
(QS. Al-Fath: 4)
Ayat ini memberikan pesan penting: السَّكِينَةُ bukan sekadar keadaan lingkungan, tetapi keadaan hati.
Seseorang mungkin mempunyai masalah tetapi tetap tenang.
Sebaliknya, seseorang mungkin memiliki rumah yang nyaman, harta yang cukup, pekerjaan yang baik, tetapi hatinya terus gelisah.
Maka ketenangan tidak selalu berarti:
“Tidak ada masalah.”
Ketenangan lebih dekat kepada:
“Ada masalah, tetapi hati tidak kehilangan Allah.”
2. ذِكْرُ اللهِ — MENENANGKAN HATI DENGAN MENGINGAT ALLAH
Allah memberikan formula yang sangat jelas:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)
Kata تَطْمَئِنُّ (taṭma'innu) berasal dari makna ketenteraman, kestabilan, dan rasa aman setelah kegelisahan.
Ini tidak berarti zikir membuat semua persoalan otomatis hilang.
Tetapi zikir mengubah cara manusia menghadapi persoalan.
Masalah tetap ada, tetapi hati memiliki tempat bersandar.
3. الصَّمْتُ — BELAJAR DIAM
Tidak semua perkataan harus dijawab.
Tidak semua komentar harus dibalas.
Tidak semua tuduhan harus diklarifikasi.
Tidak semua perdebatan layak dimasuki.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Diam bukan berarti lemah.
Dalam keadaan tertentu, diam adalah bentuk حِكْمَةٌ (ḥikmah).
Ada pertengkaran yang selesai bukan karena kita memenangkan argumentasi, tetapi karena kita memilih tidak memperpanjangnya.
4. التَّأَنِّي — TIDAK TERBURU-BURU
Dunia digital mengajarkan manusia untuk bereaksi cepat.
Baca → komentar.
Dengar → marah.
Lihat → membagikan.
Ditanya → langsung menjawab.
Diserang → langsung membalas.
Padahal Islam mengajarkan kehati-hatian.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Dalam konteks kehidupan modern, ayat ini sangat relevan dengan budaya share before verify.
Ketenangan membutuhkan jeda.
Sebelum bereaksi, tanyakan:
Apakah ini benar?
Apakah perlu saya tanggapi?
Apakah tanggapan saya akan memperbaiki keadaan?
Apakah saya akan menyesal setelah mengirimnya?
5. التَّوَكُّلُ — MENYERAHKAN HASIL KEPADA ALLAH
Salah satu sumber kegelisahan terbesar adalah keinginan mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.
Kita dapat berusaha.
Tetapi kita tidak dapat mengendalikan seluruh hasil.
Allah berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.”
(QS. At-Talaq: 3)
Tawakal bukan pasrah tanpa usaha.
Tawakal adalah:
berusaha maksimal → berdoa → menyerahkan hasil kepada Allah.
Inilah salah satu cara membebaskan hati dari beban yang tidak seharusnya dipikul.
6. فِقْهُ الأَوْلَوِيَّاتِ — BELAJAR MEMILIH MANA YANG PENTING
Tidak semua persoalan mempunyai tingkat kepentingan yang sama.
Ada masalah yang harus diselesaikan.
Ada yang cukup ditunda.
Ada yang cukup dimaafkan.
Ada yang cukup diabaikan.
Ada yang memang harus dilepaskan.
Salah satu keterampilan penting dalam kehidupan adalah فِقْهُ الأَوْلَوِيَّاتِ (fiqhu al-awlawiyyāt) — memahami prioritas.
Jangan habiskan energi untuk sesuatu yang tidak menentukan masa depan kita.
Jangan korbankan kesehatan, keluarga, ibadah, dan ketenangan hanya karena ingin memenangkan sebuah perdebatan di media sosial.
7. دَفْعُ الْوَسْوَسَةِ — MEMBEDAKAN MASALAH DENGAN PIKIRAN TENTANG MASALAH
Ada dua hal yang sering bercampur:
Masalah nyata
dan
pikiran kita tentang masalah tersebut.
Masalah nyata perlu tindakan.
Pikiran yang berlebihan membutuhkan pengelolaan.
Dalam psikologi, kekhawatiran yang berulang dapat mempertahankan keadaan stres dan membuat seseorang sulit beristirahat. Paparan informasi yang terus-menerus juga dapat meningkatkan beban kognitif.
Karena itu, manusia membutuhkan مَهَارَةُ تَنْظِيمِ الْمَشَاعِرِ (mahārat tanẓīm al-mashā‘ir) — keterampilan mengatur emosi.
Islam sejak awal telah mengajarkan manusia untuk tidak mengikuti setiap lintasan batin secara membabi buta.
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
8. KISAH: KETENANGAN DI DALAM GUA
Salah satu gambaran paling kuat tentang ketenangan dalam keadaan penuh tekanan terdapat dalam kisah hijrah Nabi Muhammad ﷺ bersama Abu Bakar رضي الله عنه.
Ketika keduanya berada di dalam gua dan keadaan sangat genting, Abu Bakar merasa khawatir.
Rasulullah ﷺ berkata:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS. At-Taubah: 40)
Perhatikan situasinya.
Mereka sedang menghadapi ancaman.
Namun Rasulullah ﷺ tidak membangun kepanikan.
Beliau membangun keyakinan:
إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا — sesungguhnya Allah bersama kita.
Inilah pelajaran besar:
Ketenangan tidak selalu lahir karena keadaan aman; terkadang ketenangan lahir karena keyakinan bahwa Allah menyertai kita dalam keadaan yang tidak aman.
9. أَسْبَابُ فَقْدِ السَّكِينَةِ — MENGAPA HATI MUDAH KEHILANGAN KETENANGAN?
Beberapa penyebab yang sering terjadi:
① كَثْرَةُ الْمُقَارَنَةِ — TERLALU BANYAK MEMBANDINGKAN DIRI
Melihat keberhasilan orang lain terus-menerus dapat membuat seseorang merasa hidupnya tertinggal.
② كَثْرَةُ الْمَعْلُومَاتِ — KELEBIHAN INFORMASI
Otak membutuhkan waktu untuk memproses informasi.
③ الْإِفْرَاطُ فِي اسْتِهْلَاكِ الْمُحْتَوَى — BERLEBIHAN MENGONSUMSI KONTEN
Tidak semua informasi layak masuk ke dalam pikiran.
④ التَّفْكِيرُ الْمُفْرِطُ — OVERTHINKING
Memikirkan kemungkinan buruk secara berulang tidak selalu menghasilkan solusi.
⑤ مُرَاقَبَةُ أَقْوَالِ النَّاسِ — TERLALU MEMPERHATIKAN PENILAIAN MANUSIA
Kita akan kelelahan jika mencoba membuat semua orang menyukai kita.
10. DAMPAK KEHIDUPAN YANG TERLALU BERISIK
Kebisingan kehidupan yang tidak dikelola dapat berpengaruh pada:
- konsentrasi;
- kualitas tidur;
- kemampuan mengambil keputusan;
- kestabilan emosi;
- hubungan sosial;
- produktivitas;
- kualitas ibadah;
- kemampuan menikmati kehidupan sederhana.
Karena itu, mengurangi kebisingan bukan kemewahan.
Ia merupakan bagian dari menjaga keseimbangan hidup.
Namun ketenangan juga tidak boleh disalahartikan sebagai menghindari semua persoalan.
Tenang bukan lari dari kehidupan.
Tenang adalah menghadapi kehidupan tanpa kehilangan arah.
11. مَنْهَجُ السَّكِينَةِ — METODE PRAKTIS MEMBANGUN KETENANGAN
1. بِدَايَةُ الْيَوْمِ بِالذِّكْرِ
Mulailah hari dengan mengingat Allah.
Jangan biarkan ponsel menjadi suara pertama yang masuk ke dalam pikiran setelah bangun.
2. تَقْلِيلُ الضَّوْضَاءِ الرَّقْمِيَّةِ
Kurangi kebisingan digital.
Atur waktu membuka media sosial.
3. وَقْتُ الصَّمْتِ
Sediakan waktu untuk diam.
Beberapa menit tanpa berita, tanpa media sosial, tanpa percakapan yang tidak perlu.
4. الصَّلَاةُ بِحُضُورِ الْقَلْبِ
Bangun kembali kekhusyukan dalam salat.
Salat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi ruang perjumpaan seorang hamba dengan Rabb-nya.
5. كِتَابَةُ الْهُمُومِ
Tuliskan beban pikiran.
Pisahkan:
yang dapat saya kendalikan
dan
yang tidak dapat saya kendalikan.
6. التَّوَكُّلُ بَعْدَ الْأَخْذِ بِالْأَسْبَابِ
Berusaha kemudian bertawakal.
Jangan tuntut diri mengendalikan sesuatu yang memang bukan kewenangan kita.
7. صُحْبَةُ الصَّالِحِينَ
Dekat dengan orang-orang yang baik.
Lingkungan yang sehat dapat membantu seseorang menjaga arah kehidupan.
12. بِرُّ النَّفْسِ — BERBAIK HATI KEPADA DIRI SENDIRI
Ada orang yang sangat mudah memaafkan orang lain, tetapi sangat keras kepada dirinya sendiri.
Ketika gagal sedikit, ia mengatakan:
“Saya bodoh.”
Ketika melakukan kesalahan, ia berkata:
“Saya tidak berguna.”
Ketika belum mencapai target, ia merasa dirinya tertinggal.
Padahal manusia memang memiliki keterbatasan.
Allah tidak meminta manusia menjadi sempurna.
Allah meminta manusia bertakwa dan terus memperbaiki diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
“Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya.”
(HR. Bukhari)
Ini merupakan prinsip keseimbangan.
Ibadah perlu dijaga.
Pekerjaan perlu dilakukan.
Keluarga perlu diperhatikan.
Tubuh perlu dirawat.
Jiwa perlu diberi ruang untuk beristirahat.
13. JANGAN MEMBAWA SEMUA PERKATAAN MANUSIA PULANG KE RUMAH
Tidak semua perkataan orang harus menjadi penghuni pikiran kita.
Ada orang berbicara karena tidak memahami kita.
Ada yang berbicara karena sedang marah.
Ada yang berbicara karena berbeda perspektif.
Ada pula kritik yang memang benar dan perlu kita perbaiki.
Maka jangan lakukan dua kesalahan:
Jangan menerima semua kritik sebagai kebenaran.
Jangan pula menolak semua kritik sebagai kebencian.
Ambillah yang benar.
Perbaiki yang salah.
Tinggalkan yang tidak bermanfaat.
Inilah النُّضْجُ (an-nuḍj) — kedewasaan.
14. KETENANGAN BUKAN BERARTI TIDAK MENANGIS
Islam tidak mengajarkan manusia menjadi batu.
Nabi Ya'qub عليه السلام menangis karena kehilangan Yusuf.
Allah berfirman:
وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
“Kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia menahan amarahnya.”
(QS. Yusuf: 84)
Kesedihan bukan otomatis tanda lemahnya iman.
Menangis bukan otomatis tanda tidak tawakal.
Yang perlu dijaga adalah agar kesedihan tidak membawa seseorang kepada keputusasaan dari rahmat Allah.
Allah berfirman:
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Yusuf: 87)
15. اللُّطْفُ مَعَ النَّفْسِ — LEMBUT TERHADAP DIRI SENDIRI
Belajarlah berkata kepada diri:
“Aku sudah berusaha.”
“Tidak semua hal harus selesai hari ini.”
“Aku boleh beristirahat.”
“Aku tidak harus menjelaskan diriku kepada semua orang.”
“Aku tidak bisa mengendalikan pendapat manusia.”
“Aku hanya berkewajiban melakukan yang terbaik dan benar.”
Dan akhirnya:
“Allah tahu apa yang tidak diketahui manusia tentang diriku.”
16. LATIHAN 10 MENIT MENUJU السَّكِينَةُ
Setiap hari, sediakan sepuluh menit:
2 menit — تنفّس (tanaffus)
Tarik napas perlahan dan tenangkan tubuh.
2 menit — ذكر (dhikr)
Perbanyak istighfar atau zikir yang ma'tsur.
2 menit — دعاء (du‘ā')
Sampaikan kegelisahan kepada Allah.
2 menit — تفكّر (tafakkur)
Renungkan apa yang benar-benar penting.
2 menit — توكّل (tawakkul)
Serahkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar.
Latihan sederhana yang dilakukan konsisten lebih bermanfaat daripada niat besar yang tidak pernah dilakukan.
17. DOA MEMOHON KETENANGAN
Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.”
(HR. Bukhari)
Doa ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak harus memikul seluruh beban hidup sendirian.
Ada Allah tempat mengadu.
18. NASIHAT UNTUK DIRI SENDIRI
Jangan terlalu sibuk mendengar dunia sampai lupa mendengar hati.
Jangan terlalu sibuk membaca kehidupan orang lain sampai lupa menjalani kehidupan sendiri.
Jangan terlalu sibuk menjawab komentar manusia sampai lupa berbicara kepada Allah.
Jangan terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki sampai lupa mensyukuri sesuatu yang sudah diberikan.
Dan jangan mengukur keberhasilan hidup hanya dengan seberapa banyak orang mengenal kita.
Sebab yang paling penting bukan:
“Seberapa terkenal aku di hadapan manusia?”
Tetapi:
“Seberapa dekat aku di hadapan Allah?”
PENUTUP
Dunia akan selalu berisik.
Akan selalu ada berita.
Akan selalu ada komentar.
Akan selalu ada orang yang setuju dan tidak setuju.
Akan selalu ada masalah yang datang silih berganti.
Kita tidak mungkin membuat dunia berhenti berbicara.
Tetapi kita dapat belajar mengatur apa yang kita dengarkan, apa yang kita pikirkan, apa yang kita jawab, dan apa yang kita lepaskan.
Karena itu, belajar tenang bukan berarti menjauh dari kehidupan.
Belajar tenang berarti belajar hidup bersama berbagai kebisingan tanpa kehilangan Allah di dalam hati.
Ketika dunia berkata:
“Takutlah!”
Hati berkata:
حَسْبِيَ اللَّهُ
“Cukuplah Allah bagiku.”
Ketika manusia berkata:
“Kamu tidak akan sanggup.”
Hati berkata:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Dan ketika kehidupan menjadi terlalu berisik, kembalilah kepada firman-Nya:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Mungkin dunia tidak menjadi lebih sunyi.
Tetapi hati kita bisa menjadi lebih tenang.
Catatan Kaki
[1] Al-Qur'an, QS. Al-Fath: 4, tentang السَّكِينَةُ yang Allah turunkan ke dalam hati orang-orang beriman.
[2] Al-Qur'an, QS. Ar-Ra‘d: 28, tentang hubungan zikir dengan ketenteraman hati.
[3] Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat: 6, tentang prinsip tabayyun terhadap informasi.
[4] Al-Qur'an, QS. At-Taubah: 40, tentang perkataan Nabi ﷺ kepada Abu Bakar ketika berada di dalam gua.
[5] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim, hadis tentang berkata baik atau diam.
[6] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis tentang memberikan hak kepada Allah, diri sendiri, dan keluarga.
[7] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, doa Nabi ﷺ memohon perlindungan dari kegelisahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, dan berbagai tekanan.
[8] Untuk aspek psikologi, pembahasan mengenai stres, beban kognitif, regulasi emosi, dan paparan informasi perlu dipahami sebagai temuan ilmiah yang membantu menjelaskan mekanisme psikologis; ilmu psikologi tidak menggantikan prinsip akidah dan ibadah dalam Islam.
____________________________________________
Wallahu a'lam bish shawab
Ide Kreator: DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar