AL-‘ULĀ, ARAB SAUDI: BENARKAH DIBENCI NABI ﷺ?
Jawaban singkat: tidak tepat mengatakan “Nabi ﷺ membenci Kota Al-‘Ulā”.
Yang benar, terdapat kawasan bernama Al-Ḥijr (الحِجْر) yang berada di wilayah Al-‘Ulā sekarang dan dikenal sebagai Hegra/Madā’in Ṣāliḥ. Kawasan tersebut dikaitkan dalam Al-Qur’an dengan kaum Tsamūd, kaum Nabi Ṣāliḥ عليه السلام yang mendustakan rasul dan akhirnya mendapat azab Allah.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ melewati Al-Ḥijr dalam perjalanan menuju Tabuk, beliau memberikan peringatan sangat keras agar para sahabat tidak memasuki tempat tinggal kaum yang diazab itu dengan sikap lalai atau sekadar rekreasi. Jadi, yang menjadi objek celaan adalah kaum yang durhaka dan tempat tinggal mereka sebagai lokasi turunnya azab, bukan seluruh wilayah Al-‘Ulā atau setiap manusia yang tinggal di sana sepanjang sejarah.
1. AL-‘ULĀ BUKAN SAMA DENGAN AL-ḤIJR
Ini penting agar tidak terjadi kesalahan sejarah.
Al-‘Ulā (العُلا) adalah wilayah yang sangat luas di barat laut Arab Saudi. Di dalam kawasan Al-‘Ulā terdapat berbagai situs dan lapisan sejarah, termasuk Dadan, Lihyan, Al-Ḥijr/Hegra, serta Kota Tua Al-‘Ulā. Otoritas Al-‘Ulā sendiri menjelaskan bahwa kawasan tersebut memiliki sejarah dari berbagai peradaban, termasuk Dadan dan Lihyan serta kemudian Nabataean.
Sementara Al-Ḥijr (الحِجْر) adalah lokasi yang secara tradisional diidentifikasi sebagai tempat tinggal kaum Tsamūd dan dalam konteks arkeologi modern dikenal sebagai Hegra.
UNESCO mencatat Hegra sebagai situs arkeologi besar peninggalan peradaban Nabataean, dengan makam-makam monumental yang terutama berasal dari sekitar abad pertama SM sampai abad pertama M.
Dengan demikian:
Al-‘Ulā ≠ seluruhnya Al-Ḥijr.
Mengatakan “Nabi membenci Al-‘Ulā” adalah generalisasi yang tidak didukung oleh dalil.
2. APA YANG DISEBUT AL-QUR'AN?
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ وَآتَيْنَاهُمْ آيَاتِنَا فَكَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُصْبِحِينَ فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
QS. Al-Ḥijr [15]: 80–84
Artinya:
“Dan sungguh, penduduk negeri Al-Ḥijr telah mendustakan para rasul. Dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya. Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung dengan aman. Kemudian mereka ditimpa suara keras pada pagi hari. Maka apa yang mereka usahakan tidak dapat menolong mereka.”
Para mufasir menjelaskan bahwa Ashḥābul-Ḥijr adalah kaum Tsamūd, kaum Nabi Ṣāliḥ عليه السلام. Tafsir al-Ṭabari secara eksplisit menyebut Al-Ḥijr sebagai negeri Tsamūd.
3. KISAH NABI ṢĀLIḤ DAN KAUM TSAMŪD
Allah berfirman:
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
QS. Al-A‘rāf [7]: 73
Artinya:
“Dan kepada kaum Tsamūd (Kami utus) saudara mereka, Ṣāliḥ. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Sungguh, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini adalah unta betina Allah sebagai tanda bagimu. Maka biarkanlah ia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, nanti kamu akan ditimpa azab yang pedih.’”
Namun mereka menolak.
Mereka bahkan membunuh unta yang menjadi tanda kekuasaan Allah. Akibatnya, Allah menimpakan azab kepada mereka.
4. LALU, APAKAH NABI ﷺ “MEMBENCI” TEMPAT ITU?
Istilah “membenci Al-‘Ulā” tidak tepat.
Hadis yang sahih berbicara tentang Al-Ḥijr, bukan pernyataan bahwa Nabi ﷺ membenci seluruh Al-‘Ulā.
Ketika Nabi ﷺ melewati Al-Ḥijr, Abdullah bin Umar رضي الله عنهما meriwayatkan:
لَا تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ
Artinya:
“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri, kecuali dalam keadaan menangis, agar kalian tidak tertimpa apa yang telah menimpa mereka.”
HR. al-Bukhari no. 3380.
Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bahkan mempercepat perjalanan setelah melewati kawasan tersebut.
Dan dalam Ṣaḥīḥ Muslim:
لَا تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ الْمُعَذَّبِينَ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ
Artinya:
“Janganlah kalian memasuki tempat kaum yang diazab ini kecuali dalam keadaan menangis. Jika kalian tidak menangis, janganlah kalian memasuki tempat mereka, agar kalian tidak tertimpa seperti apa yang telah menimpa mereka.”
HR. Muslim no. 2980a.
5. MENGAPA NABI ﷺ MELARANG MEMASUKINYA?
Ini bukan sekadar masalah geografis.
Ada pesan teologis dan pendidikan yang sangat kuat.
Pertama — tempat azab bukan objek wisata kesombongan
Kaum Tsamūd mempunyai kemampuan luar biasa.
Mereka memahat rumah di gunung:
وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ
“Mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung dengan aman.”
Namun kekuatan teknologi dan kemajuan mereka tidak menyelamatkan mereka ketika mereka durhaka kepada Allah.
Kedua — sejarah harus melahirkan rasa takut kepada Allah
Nabi ﷺ tidak mengajarkan:
“Lihatlah peninggalan mereka dan kagumlah kepada kejayaan mereka.”
Tetapi mengajarkan agar manusia merenungkan bagaimana sebuah masyarakat yang kuat dapat hancur karena kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.
Ketiga — jangan mengubah situs azab menjadi hiburan tanpa ibrah
Hadis menggunakan kata:
بَاكِينَ
“dalam keadaan menangis.”
Maknanya adalah memasuki tempat tersebut dengan rasa takut, rendah hati, dan mengambil pelajaran, bukan dengan sikap bermain-main dan merasa aman dari hukuman Allah.
6. APAKAH BOLEH BERWISATA KE AL-‘ULĀ?
Di sini harus dibedakan secara cermat.
Tidak boleh menyimpulkan:
“Semua Al-‘Ulā haram didatangi.”
Dalil yang ada tidak berbicara seperti itu.
Yang secara khusus disebut dalam hadis adalah tempat tinggal kaum yang diazab, yaitu Al-Ḥijr.
Selain itu, Al-‘Ulā modern mencakup kawasan yang jauh lebih luas dan memiliki berbagai situs dari periode sejarah yang berbeda. Bahkan Hegra yang dikenal sekarang juga memiliki tinggalan Nabataean yang secara arkeologis berasal dari periode jauh setelah kaum Tsamūd.
Karena itu, tidak ilmiah menyamakan seluruh Al-‘Ulā dengan “kota kaum yang dibenci Nabi ﷺ.”
7. KESALAHAN YANG SERING TERJADI
Ada tiga klaim yang perlu diluruskan:
❌ “Nabi ﷺ membenci Kota Al-‘Ulā.”
Tidak tepat.
Tidak ada hadis sahih dengan lafaz bahwa Nabi ﷺ “membenci Al-‘Ulā”.
❌ “Semua Al-‘Ulā adalah tempat kaum Tsamūd.”
Tidak tepat.
Al-‘Ulā merupakan kawasan luas dengan sejarah berbagai peradaban.
❌ “Nabi ﷺ melarang seluruh manusia mengunjungi Al-‘Ulā.”
Terlalu luas.
Hadis berbicara secara spesifik mengenai tempat tinggal kaum yang diazab di Al-Ḥijr dan memberikan adab yang sangat serius ketika melewatinya.
8. PELAJARAN TERBESAR DARI AL-ḤIJR
Al-Ḥijr bukan sekadar peninggalan arkeologi.
Ia adalah “museum peringatan” yang disebut Al-Qur'an.
Manusia dapat membangun:
- rumah di gunung,
- kota yang megah,
- sistem ekonomi yang kuat,
- teknologi tinggi,
- peradaban maju,
tetapi semua itu tidak menjamin keselamatan apabila manusia kehilangan iman, tauhid, keadilan dan ketaatan kepada Allah.
Allah berfirman:
فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Maka apa yang mereka usahakan tidak dapat menolong mereka.”
QS. Al-Ḥijr [15]: 84.
9. KESIMPULAN
Benarkah Al-‘Ulā dibenci Nabi ﷺ?
Jawabannya: TIDAK dalam pengertian tersebut.
Yang benar:
Al-Ḥijr, sebuah kawasan yang kini berada dalam wilayah Al-‘Ulā, adalah tempat yang dikaitkan dengan kaum Tsamūd.
Kaum tersebut mendustakan Nabi Ṣāliḥ عليه السلام dan akhirnya diazab Allah.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ melewati tempat itu dalam perjalanan menuju Tabuk, beliau memperingatkan para sahabat:
لَا تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ
“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang menzalimi diri mereka kecuali dalam keadaan menangis.”
(HR. Bukhari).
Maka ungkapan yang lebih ilmiah dan sesuai dalil adalah:
“Nabi ﷺ tidak disebut membenci Al-‘Ulā. Namun beliau memperingatkan umatnya ketika melewati Al-Ḥijr—tempat tinggal kaum Tsamūd yang diazab—agar tidak memasukinya dengan sikap lalai, melainkan dengan rasa takut kepada Allah dan mengambil ibrah.”
Inilah perbedaan antara membenci sebuah kota dengan memperingatkan manusia terhadap dosa, kesombongan, dan tempat yang menjadi saksi turunnya azab Allah.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Ide Kreator: Drs. Hamzah Johan


Posting Komentar