POPULARITAS NIHIL KETIKA AQIDAH RUSAK



POPULARITAS NIHIL KETIKA AQIDAH RUSAK


Ketika Pujian Manusia Tidak Seimbang dengan Ridha Allah

Di era digital saat ini, popularitas sering dijadikan ukuran keberhasilan seseorang. Jumlah followers, views, likes, dan pengakuan publik seolah menjadi standar nilai diri. Tidak sedikit manusia yang rela mengorbankan prinsip, kehormatan, bahkan aqidah demi mendapatkan perhatian dan pujian.

Padahal, popularitas hanyalah kenikmatan sementara, sedangkan aqidah adalah bekal yang menentukan keselamatan manusia di dunia dan akhirat.

Popularitas dapat naik dan turun, dipuji dan dilupakan. Namun, pertanggungjawaban iman kepada Allah SWT akan terus melekat sampai hari perhitungan.

Popularitas yang Menjadi Jebakan

Popularitas sering membawa seseorang pada tekanan untuk mengikuti selera manusia. Ketika keinginan mendapatkan pengakuan lebih besar daripada keinginan mencari ridha Allah, maka seseorang mulai berkompromi dengan prinsip agama.

Inilah bahaya terbesar: ketika manusia lebih takut kehilangan pujian makhluk daripada kehilangan keridhaan Sang Khalik.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

"Barang siapa mencari keridhaan manusia dengan melakukan sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya."

(HR. Tirmidzi No. 2414)

Hadis ini mengajarkan bahwa standar utama seorang mukmin bukanlah penilaian manusia, tetapi ridha Allah SWT.

Aqidah Adalah Pondasi, Popularitas Hanya Bayangan

Seorang mukmin memahami bahwa nama besar tanpa iman yang benar adalah kehampaan. Popularitas tanpa aqidah yang lurus dapat berubah menjadi ujian yang menjerumuskan.

Ketika aqidah melemah, amal yang dilakukan bisa kehilangan nilai keikhlasan. Seseorang dapat terjebak dalam riya' (beramal agar dilihat manusia) dan sum'ah (beramal agar didengar dan dipuji manusia).

Allah SWT berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

"Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang beterbangan."

(QS. Al-Furqan: 23)

Ayat ini menjadi peringatan bahwa amal yang kehilangan keikhlasan dan tidak berdiri di atas aqidah yang benar dapat kehilangan nilai di sisi Allah SWT.

Popularitas Tidak Menjamin Kemuliaan

Banyak orang dikenal oleh manusia, tetapi tidak memiliki kedudukan di sisi Allah. Sebaliknya, banyak hamba Allah yang tidak terkenal di bumi, namun mulia di langit karena keikhlasan dan ketakwaannya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."

(QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan sejati bukan karena banyaknya pengikut, tetapi karena kuatnya hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

Renungan Untuk Kita

Sebelum mengejar popularitas, mari bertanya kepada diri sendiri:

1. Apakah yang saya lakukan mendatangkan ridha Allah atau hanya mengejar pujian manusia?

2. Apakah popularitas ini memperkuat iman atau justru melemahkan aqidah?

3. Apakah saya ingin dikenal manusia, atau ingin diterima Allah sebagai hamba yang taat?

Kesimpulan

Jangan tukarkan aqidah dengan popularitas. Jangan korbankan prinsip demi tepuk tangan manusia. Karena popularitas akan berakhir, tetapi iman akan menjadi bekal menuju kehidupan yang abadi.

Jadilah pribadi yang dikenal karena kebenaran, bukan terkenal karena meninggalkan kebenaran.

Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari fitnah pujian, menjauhkan kita dari kesombongan, dan menetapkan iman kita di atas jalan-Nya yang lurus.

---

Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama