Menghina Orang Lain: Manifestasi Kontemporer dari Akar Kesombongan


 

MENGHINA ORANG LAIN: MANIFESTASI KONTEMPORER DARI AKAR KESOMBONGAN

Pengertian Judul

"Menghina Orang Lain: Manifestasi Kontemporer dari Akar Kesombongan" merupakan sebuah tesis moral dan spiritual yang menegaskan bahwa perilaku menghina, merendahkan, melecehkan (bullying), mencaci, ataupun menafikan kehormatan orang lain bukanlah sekadar luapan emosi sesaat. Tindakan tersebut merupakan manifestasi lahiriah dari penyakit batin yang dalam Islam dikenal sebagai al-kibr (kesombongan).

Dalam perspektif psikologi modern, perilaku merendahkan orang lain sering kali muncul sebagai mekanisme kompensasi atas kelemahan diri (compensatory behavior), kebutuhan akan superioritas (superiority complex), atau rapuhnya harga diri (fragile self-esteem). Pelaku berusaha meninggikan citra dirinya dengan cara merendahkan martabat orang lain.

Fenomena ini semakin nyata pada era digital. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi dan penyebaran ilmu justru sering berubah menjadi ruang lahirnya cyberbullying, hate speech, body shaming, fitnah, dan budaya penghinaan yang dipertontonkan demi memperoleh perhatian (attention economy). Padahal, kemuliaan seseorang tidak pernah diukur dari banyaknya pengikut, jabatan, kekayaan, maupun popularitas, melainkan dari ketakwaannya kepada Allah.


1. اَلْكِبْرُ: مَنْبَعُ السُّخْرِيَّةِ وَالِاحْتِقَارِ

Al-Kibr: Manba'us-Sukhriyyah wal-Ihtiqār

Kesombongan adalah Sumber Perilaku Menghina dan Merendahkan

Dalam ajaran Islam, kesombongan merupakan akar berbagai penyimpangan akhlak. Orang yang menghina sesamanya pada hakikatnya sedang menempatkan dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya:

"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."
(HR. Muslim No. 91)

Analisis Ilmiah

Hadis ini memberikan definisi yang sangat komprehensif mengenai kesombongan.

Kesombongan memiliki dua indikator utama:

  • Menolak kebenaran karena merasa diri paling benar.
  • Merendahkan manusia karena merasa lebih mulia daripada orang lain.

Dalam psikologi sosial, perilaku ini dikenal sebagai superiority bias, yakni kecenderungan menilai diri lebih unggul dibandingkan orang lain.

Seseorang yang gemar menghina fisik, status ekonomi, pendidikan, suku, pekerjaan, ataupun kekurangan orang lain sejatinya sedang memperlihatkan penyakit batin yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai al-kibr.

Semakin seseorang menikmati penghinaan terhadap orang lain, semakin besar kemungkinan kesombongan telah menguasai hatinya.


2. اَلْإِعْجَابُ بِالنَّفْسِ وَتَأْثِيْرُهُ فِي الْعَصْرِ الرَّقْمِيِّ

Al-I'jābu bin-Nafsi wa Ta'tsīruhu fil-'Ashrir-Raqmī

Ujub dan Kesombongan di Era Digital

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ...

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok perempuan lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka. Janganlah kamu saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk..."
(QS. Al-Hujurat [49]: 11)

Analisis Ilmiah

Ayat ini merupakan prinsip etika sosial yang sangat relevan sepanjang zaman.

Pada era digital, bentuk penghinaan tidak lagi terbatas pada ucapan secara langsung, tetapi juga melalui:

  • komentar yang merendahkan,
  • meme penghinaan,
  • body shaming,
  • penyebaran fitnah,
  • ujaran kebencian,
  • cancel culture,
  • hingga perundungan (cyberbullying).

Dalam ilmu psikologi dikenal berbagai bias kognitif, seperti self-serving bias dan Dunning-Kruger effect, yang membuat seseorang merasa dirinya paling benar, paling pintar, atau paling layak menghakimi orang lain.

Padahal Allah mengingatkan bahwa orang yang direndahkan bisa jadi jauh lebih mulia di sisi-Nya daripada orang yang menghina.

Kemuliaan bukan berada pada penampilan lahir, melainkan pada ketakwaan yang hanya diketahui Allah.


3. اَلِاحْتِقَارُ بَدَايَةُ الْهَلَاكِ الِاجْتِمَاعِيِّ

Al-Ihtiqāru Bidāyatul-Halākil-Ijtimā'ī

Merendahkan Orang Lain adalah Awal Kehancuran Sosial

Rasulullah ﷺ bersabda:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Artinya:

"Cukuplah seseorang dianggap berbuat kejahatan apabila ia merendahkan saudaranya sesama muslim."
(HR. Muslim No. 2564)

Analisis Ilmiah

Hadis ini menunjukkan bahwa merendahkan orang lain merupakan indikator rusaknya akhlak.

Dalam ilmu sosiologi modern, penghinaan yang terus-menerus melahirkan proses dehumanisasi, yaitu memandang orang lain seolah tidak memiliki nilai dan martabat sebagai manusia.

Akibatnya muncul berbagai kerusakan sosial, seperti:

  • perpecahan masyarakat,
  • diskriminasi,
  • kekerasan verbal,
  • perundungan,
  • depresi,
  • hilangnya rasa saling percaya,
  • bahkan konflik berkepanjangan.

Orang yang dikuasai kesombongan akan sulit membangun hubungan sosial yang sehat karena egonya selalu membutuhkan pihak lain sebagai objek untuk direndahkan.

Padahal Islam datang untuk memuliakan manusia, bukan merendahkannya.


Kesimpulan

Menghina orang lain merupakan manifestasi nyata dari kesombongan yang bersemayam di dalam hati.

Semakin mudah seseorang mencela, mengejek, mempermalukan, dan merendahkan sesamanya, semakin besar kemungkinan penyakit al-kibr sedang menguasai jiwanya.

Seorang mukmin sejati tidak sibuk mencari kekurangan orang lain, tetapi sibuk memperbaiki kekurangan dirinya sendiri.

Di era digital, menjaga lisan, tulisan, komentar, dan jemari dari penghinaan merupakan bagian dari ibadah yang sangat agung. Adab dalam berkomunikasi bukan sekadar etika sosial, melainkan cerminan ketakwaan kepada Allah.

Marilah kita menjadikan media sosial sebagai ladang amal, bukan ladang dosa; sebagai sarana menyebarkan ilmu, bukan menyebarkan penghinaan; dan sebagai tempat memperkuat ukhuwah, bukan memupuk kesombongan.


Footnote

[1] HR. Muslim No. 91, Kitab al-Iman, Bab Tahrim al-Kibr wa Bayanuhu.

[2] QS. Al-Hujurat [49]: 11.

[3] HR. Muslim No. 2564, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, Bab Tahrim Zhulm al-Muslim.


Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama