DZURIYAH PALSU GELAP MATA: SEGALA HAL DIJADIKAN FRAMING
Pengertian Judul
Istilah “dzuriyah palsu” dalam pembahasan ini tidak diarahkan kepada nasab, suku, ras, atau kelompok tertentu secara mutlak, melainkan sebagai kritik terhadap siapa saja yang sengaja memalsukan identitas, menyalahgunakan simbol agama, membangun pencitraan dusta, dan memutarbalikkan fakta demi kepentingan duniawi. Adapun istilah “gelap mata” menggambarkan kondisi ketika seseorang telah kehilangan kejernihan akal dan kebersihan hati sehingga seluruh realitas dipandang dengan hawa nafsu, fanatisme, dan kepentingan sempit.
Sedangkan “segala hal dijadikan framing” menunjukkan perilaku manipulatif yang menjadikan opini, propaganda, intimidasi psikologis, serta rekayasa informasi sebagai alat untuk menggiring persepsi masyarakat. Dalam perspektif Islam, tindakan tersebut termasuk bagian dari:
- التَّلْبِيسُ (penyamaran kebenaran)
- التَّدْلِيسُ (penipuan terselubung)
- البُهْتَانُ (fitnah dusta)
- الإِرْجَافُ (penyebaran isu menakutkan)
- قَلْبُ الحَقَائِقِ (membalikkan fakta)
Fenomena ini semakin nyata di era digital ketika media sosial dipenuhi narasi yang tidak dibangun di atas ilmu, tetapi di atas kepentingan, fanatisme, dan syahwat kekuasaan.
1. فِتْنَةُ التَّلْبِيسِ: MEMAKAI AGAMA UNTUK MENUTUPI KEBATILAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan manusia agar tidak mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan.
Dalil Al-Qur’an
﴿ وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴾
“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran itu, sedangkan kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 42)
Ayat ini menjelaskan bahwa salah satu ciri kelompok manipulatif ialah mencampurkan antara fakta dan dusta sehingga masyarakat sulit membedakan mana yang benar dan mana yang palsu. Mereka tidak selalu berdusta secara terang-terangan, tetapi menyisipkan kebatilan di tengah sebagian kebenaran.
Dalam ilmu komunikasi modern, metode ini dikenal sebagai:
- disinformation strategy
- narrative manipulation
- emotional framing
- selective truth
Mereka mengambil potongan fakta tertentu, lalu membangun opini besar untuk menjatuhkan lawan, menutupi kelemahan sendiri, atau menciptakan ilusi kesucian.
2. الهَوَىٰ أَعْمَى: HAWA NAFSU MENJADIKAN MANUSIA BUTA
Dalil Al-Qur’an
﴿ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ ﴾
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46)
Ketika hawa nafsu menguasai hati, maka seseorang tidak lagi mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran.
Ia akan:
- memusuhi orang yang berbeda pendapat,
- memelintir ucapan lawan,
- memotong konteks pembicaraan,
- membangun stigma,
- menyebarkan ketakutan,
- serta memobilisasi massa dengan propaganda.
Fenomena ini disebut dalam Islam sebagai:
اتِّبَاعُ الْهَوَىٰ
yakni mengikuti hawa nafsu tanpa ilmu.
Dalil
﴿ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ﴾
“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Shad: 26)
Secara psikologis, framing lahir ketika seseorang tidak siap menerima kritik dan takut kehilangan pengaruh sosial. Maka ia membangun narasi alternatif agar masyarakat membenci pihak yang dianggap mengancam kepentingannya.
3. الإِرْجَافُ الإِعْلَامِيُّ: TEROR OPINI DAN PROPAGANDA MASSA
Dalam sejarah Islam, kaum munafik sering memakai propaganda untuk mengguncang stabilitas masyarakat.
Dalil Al-Qur’an
﴿ لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ﴾
“Sesungguhnya jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti, niscaya Kami perintahkan engkau menghadapi mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 60)
Kata الْمُرْجِفُونَ menunjukkan para penyebar isu dan penggiring opini.
Mereka hidup dari:
- provokasi,
- fitnah,
- ketakutan,
- rumor,
- pembunuhan karakter,
- dan manipulasi emosi publik.
Di era digital, pola ini muncul melalui:
- potongan video tanpa konteks,
- narasi viral tanpa tabayyun,
- akun anonim,
- buzzer propaganda,
- serta framing sistematis.
Padahal Islam mewajibkan tabayyun.
Dalil
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita maka telitilah.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
4. البُهْتَانُ وَالاِفْتِرَاءُ: FITNAH SEBAGAI SENJATA UTAMA
Orang yang kehilangan hujjah ilmiah biasanya berpindah kepada fitnah personal.
Mereka tidak lagi membantah argumen, tetapi menyerang:
- karakter,
- keluarga,
- latar belakang,
- ekonomi,
- organisasi,
- bahkan identitas sosial.
Ini adalah metode klasik yang dipakai musuh para nabi.
Dalil
﴿ مَا هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُفْتَرًى ﴾
“Ini hanyalah sihir yang diada-adakan.”
(QS. Shad: 7)
Rasulullah ﷺ juga difitnah sebagai:
- penyair,
- penyihir,
- orang gila,
- pemecah belah,
- bahkan pendusta.
Padahal beliau adalah manusia paling jujur.
Framing adalah teknik untuk membentuk persepsi sebelum masyarakat memahami fakta. Karena itu, Islam sangat keras terhadap pelaku fitnah.
Hadits
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
« كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ »
“Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”
(HR. Muslim)
5. التَّعَصُّبُ الأَعْمَى: FANATISME YANG MEMATIKAN AKAL
Framing biasanya lahir dari fanatisme buta.
Ketika seseorang terlalu mengkultuskan kelompok, tokoh, organisasi, atau simbol tertentu, maka ia kehilangan objektivitas.
Semua kritik dianggap ancaman.
Semua nasihat dianggap permusuhan.
Semua lawan dianggap musuh agama.
Padahal Islam melarang fanatisme jahiliyyah.
Hadits
« لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ »
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme.”
(HR. Abu Dawud)
Fanatisme membuat seseorang rela:
- berdusta demi kelompok,
- menutupi kesalahan tokohnya,
- menyerang pihak lain,
- serta menghalalkan propaganda.
Ini sangat berbahaya bagi persatuan umat.
6. الحَقُّ لَا يَخَافُ مِنَ النَّقْدِ: KEBENARAN TIDAK TAKUT DIUJI
Kebenaran tidak membutuhkan framing.
Kebenaran cukup dibuktikan dengan:
- ilmu,
- data,
- akhlak,
- dan argumentasi.
Sedangkan kebatilan biasanya bertumpu pada:
- emosi,
- intimidasi,
- propaganda,
- ketakutan,
- dan pengkultusan.
Allah berfirman:
﴿ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ﴾
“Katakanlah: Datangkan bukti kalian jika kalian benar.”
(QS. Al-Baqarah: 111)
Ayat ini menjadi prinsip ilmiah dalam Islam:
البُرْهَانُ قَبْلَ الدَّعْوَى
“Bukti didahulukan sebelum klaim.”
Maka siapa saja yang membangun narasi tanpa bukti sejatinya sedang membangun istana di atas kebohongan.
7. فِقْهُ التَّبَيُّنِ: KEWAJIBAN MEMERIKSA INFORMASI
Di era media sosial, umat Islam wajib memiliki fiqih tabayyun.
Jangan mudah:
- percaya,
- marah,
- membenci,
- atau memviralkan informasi.
Sebab banyak framing dibangun untuk:
- memecah umat,
- menjatuhkan tokoh,
- menghancurkan reputasi,
- serta mengalihkan perhatian dari masalah utama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ »
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.”
(HR. Muslim)
Hadits ini sangat relevan dengan budaya share tanpa verifikasi.
8. البَصِيرَةُ الإِيمَانِيَّةُ: ORANG BERIMAN TIDAK MUDAH TERPROVOKASI
Orang beriman memiliki bashirah.
Ia tidak mudah diadu domba.
Tidak mudah dibakar emosi.
Tidak mudah termakan propaganda.
Allah berfirman:
﴿ قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ ﴾
“Sungguh telah datang kepada kalian berbagai bukti yang nyata dari Tuhan kalian. Maka barangsiapa melihat dengan jelas, manfaatnya untuk dirinya sendiri.”
(QS. Al-An’am: 104)
Bashirah dibangun melalui:
- ilmu,
- kejujuran,
- ketakwaan,
- akhlak,
- dan keberanian menerima kebenaran.
Sebaliknya, framing tumbuh subur di tengah:
- kebodohan,
- fanatisme,
- kebencian,
- serta ketidakdewasaan berpikir.
9. ANALISIS ILMIAH DAN SOSIAL KONTEMPORER
Secara sosiologis, framing adalah proses pembentukan makna sosial melalui seleksi informasi tertentu. Dalam teori komunikasi modern, framing dipakai untuk mempengaruhi persepsi publik dengan menonjolkan sisi tertentu dan menyembunyikan sisi lainnya.
Secara psikologis, manusia mudah terpengaruh framing karena:
-
Bias konfirmasi. Manusia cenderung percaya informasi yang sesuai dengan keyakinannya.
-
Emotional trigger. Narasi yang memancing emosi lebih cepat viral daripada penjelasan ilmiah.
-
Tribal mentality. Fanatisme kelompok membuat seseorang membela kelompoknya meskipun salah.
-
Repetition effect. Kebohongan yang diulang terus-menerus dapat dianggap sebagai kebenaran.
Karena itu, Islam datang membawa prinsip:
- tabayyun,
- keadilan,
- objektivitas,
- amanah ilmiah,
- dan larangan berdusta.
Umat Islam wajib berhati-hati agar tidak menjadi alat propaganda.
10. PENUTUP DAN NASIHAT
Fenomena framing adalah penyakit serius dalam kehidupan umat.
Ketika manusia lebih mencintai citra daripada kebenaran, maka segala cara akan dipakai:
- fitnah,
- manipulasi,
- propaganda,
- intimidasi,
- dan pembunuhan karakter.
Islam mengajarkan agar setiap muslim:
- jujur,
- adil,
- ilmiah,
- objektif,
- dan takut kepada Allah.
Jangan sampai kebencian membuat kita berlaku zalim.
Dalil
﴿ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ﴾
“Janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Maka siapa saja yang menjadikan framing, dusta, dan propaganda sebagai senjata sesungguhnya sedang merusak dirinya sendiri di hadapan Allah.
Kebenaran mungkin diuji, tetapi tidak akan hancur.
Sedangkan kebatilan mungkin terlihat kuat, tetapi pada akhirnya akan runtuh.
Dalil Penutup
﴿ بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ ﴾
“Sebenarnya Kami lemparkan kebenaran kepada kebatilan lalu kebenaran itu menghancurkannya, maka lenyaplah kebatilan itu.”
(QS. Al-Anbiya’: 18)
Footnote
-
Tafsir Al-Tabari, penjelasan QS. Al-Baqarah: 42 tentang larangan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan.
-
Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Hajj: 46 tentang kebutaan hati akibat hawa nafsu.
-
Imam Al-Qurthubi, tafsir QS. Al-Hujurat: 6 mengenai kewajiban tabayyun.
-
Shahih Muslim, Kitab Al-Birr, larangan merusak kehormatan sesama muslim.
-
Sunan Abu Dawud, hadits larangan fanatisme jahiliyyah.
-
Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham tentang bahaya hawa nafsu terhadap objektivitas ilmu.
-
Teori Framing oleh Erving Goffman dan pengembangan media framing dalam komunikasi modern.
-
Konsep propaganda massa dalam kajian psikologi sosial modern.
-
Tafsir As-Sa’di mengenai QS. Al-Ma’idah: 8 tentang keadilan meskipun kepada pihak yang dibenci.
-
Kajian etika komunikasi Islam tentang amanah informasi dan larangan fitnah.
Wallahu a'lam bish shawab
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar