SYAWWAL BULAN PENINGKATAN

SYAWWAL: BULAN PENINGKATAN

ISTIQRĀR DAN TARQIYAH)

Kata Syawwāl (شوّال) adalah bulan kesepuluh dalam kalender Hijriyah yang datang setelah Ramadhan. Secara bahasa, syāla berarti “naik” atau “terangkat”, memberi isyarat bahwa pada bulan ini semestinya terjadi peningkatan (irtifā’) kualitas iman dan amal seorang muslim setelah ditempa selama Ramadhan.

Adapun “bulan peningkatan” bermakna bahwa Syawwal bukanlah masa penurunan semangat ibadah, tetapi momentum istimrār (kontinuitas) dan tarqiyah (peningkatan kualitas) amal shaleh.



1. Al-Istiqrār (الاستقرار) — Konsistensi dalam Ibadah

Allah Ta‘ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqīn (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah tidak mengenal musim. Ramadhan boleh berlalu, tetapi penghambaan tidak boleh berhenti. Inilah makna al-istiqrār: stabilitas dalam ketaatan tanpa fluktuasi drastis setelah Ramadhan.


2. At-Tarqiyah (الترقية) — Peningkatan Derajat Amal

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawwal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan konsep tarqiyah: bukan sekadar menjaga amal, tetapi meningkatkannya. Puasa Syawwal menjadi bukti bahwa seorang hamba tidak puas hanya dengan kewajiban, tetapi melangkah menuju an-nawāfil (ibadah tambahan).


Untuk Mencapai Istiqrār dan Tarqiyah Diperlukan:

1. Al-Istiqāmah (الاستقامة)

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah…” (QS. Fussilat: 30)

Istiqāmah adalah fondasi utama. Ia berarti:

  • Konsisten dalam iman (tsubūt al-īmān)
  • Kontinuitas amal (dawām al-‘amal)
  • Tidak terpengaruh oleh perubahan suasana (‘adam at-taqallub)

Imam Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:
"Al-istiqāmah adalah engkau tetap berada di atas perintah dan menjauhi larangan tanpa menyimpang."


2. Lā Naqḍul Ghazl (لا نقض الغزل) — Tidak Merusak Amal

Allah Ta‘ala memperingatkan:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali benangnya yang telah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai.” (QS. An-Nahl: 92)

Ini adalah perumpamaan bagi orang yang:

  • Rajin beribadah di Ramadhan
  • Namun kembali bermaksiat setelahnya

Amal yang telah kuat (min ba‘di quwwah) menjadi rusak (ankāthan) karena kelalaian. Inilah lawan dari istiqrār dan tarqiyah.


Penutup

Syawwal adalah ujian kejujuran iman:

  • Apakah Ramadhan hanya rutinitas tahunan?
  • Ataukah ia benar-benar mengubah arah hidup kita?

Seorang mukmin sejati menjadikan Ramadhan sebagai titik tolak, bukan titik akhir. Ia menjaga istiqrār dalam ibadah dan terus melakukan tarqiyah dalam amal.


Footnote:

  1. QS. Al-Hijr: 99
  2. HR. Muslim no. 1164
  3. QS. Fussilat: 30
  4. QS. An-Nahl: 92

Wallahu a‘lam bish shawab

Drs. Hamzah Johan

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama