MEMPERINGATI NUZUL AL-QUR’AN
(Refleksi Historis, Teologis, dan Peradaban dalam Perspektif Dakwah Kontemporer)
A. LATAR BELAKANG DAN SEJARAHNYA
1. Latar Belakang: Kondisi Jahiliyah Bangsa Arab
Sebelum diturunkannya Al-Qur’an, masyarakat Arab berada dalam kondisi jahiliyah (kegelapan spiritual dan moral) akibat terputusnya bimbingan wahyu dalam waktu yang panjang. Allah ﷻ berfirman:
لِتُنذِرَ قَوْمًا مَا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ
“Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka berada dalam kelalaian.”
(QS. Yāsīn: 6)
Manifestasi jahiliyah meliputi:
-
Kerusakan Akidah
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ
“Mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula manfaat, dan mereka berkata: ‘Mereka adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.’”
(QS. Yūnus: 18) -
Kerusakan Sosial (Pembunuhan Bayi Perempuan)
وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ • بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ
“Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?”
(QS. At-Takwīr: 8–9) -
Kerusakan Moral dan Hukum
Dominasi kezaliman, penindasan, fanatisme kesukuan (‘ashabiyyah), dan hukum rimba tanpa keadilan.
2. Awal Persiapan Kenabian: Ru’yā Ṣādiqah dan Tahannuts
Permulaan wahyu diawali dengan mimpi yang benar sebagai bentuk tamhīd ilāhī (persiapan ilahi):
أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ
“Permulaan wahyu yang dialami Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang benar; tidaklah beliau melihat mimpi kecuali datang seterang cahaya fajar.”
(HR. al-Bukhāri dan Muslim)
Kemudian beliau melakukan tahannuts (ibadah kontemplatif) di Gua Hira:
حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ، فَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ
“Dijadikan kecintaan kepadanya untuk menyendiri; beliau berkhalwat di Gua Hira dan beribadah beberapa malam.”
(HR. al-Bukhāri)
3. Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama
Pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan, turun wahyu pertama:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ • خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ • اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ • الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ • عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–5)
4. Makna “Iqra’” Secara Substantif
“Iqra’” bukan sekadar membaca teks, tetapi epistemologi Islam:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ = Baca siapa Tuhan ?
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ = Baca tentang penciptaan manusia.
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ = Baca cara menyembah Tuhan
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ = Baca sistim belajar dan pendidikan
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ = Baca hal ghoib; akhirat, sorga, neraka dll.
Karena nabi belum tahu membuat beliau ketakutan.
Kesimpulannya:
- Membaca ayat qauliyyah (wahyu) dan kauniyyah (alam semesta)
- Membangun kesadaran tauhid dan makrifatullah
- Mengembangkan ilmu dan peradaban
- Menjadi basis gerakan dakwah transformatif
5. Kepulangan Nabi dalam Keadaan Takut
فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ فَقَالَ: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي
“Rasulullah ﷺ pulang dalam keadaan gemetar, lalu berkata: ‘Selimuti aku, selimuti aku.’”
(HR. al-Bukhāri dan Muslim).
Khadijah menyejukkan hati nabi, berperan sebagai isteri shalihah.
6. Peran Khadijah dan Waraqah bin Naufal
Khadijah r.a. menjadi support system pertama dalam dakwah, lalu Waraqah menegaskan kenabian:
هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى
“Ini adalah Namus (Jibril) yang dahulu diturunkan Allah kepada Musa.”
(HR. al-Bukhāri)
7. Fatrah al-Waḥy dan Awal Dakwah Terbuka
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ • قُمْ فَأَنذِرْ • وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ • وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ • وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُۖ
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْۗ
“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Agungkan Tuhanmu, bersihkan pakaianmu, dan tinggalkan dosa. Janganlah memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak! Karena Tuhanmu, bersabarlah!
”
(QS. Al-Muddatsir: 1–7)
Ayat
8. Hikmah Turunnya Secara Bertahap (Tadarruj)
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا
“Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya perlahan kepada manusia.”
(QS. Al-Isrā’: 106)
Hikmahnya:
- Memudahkan hafalan dan pengamalan
- Menguatkan hati Nabi ﷺ
- Menjawab problem umat secara kontekstual
B. HIKMAH DITURUNKANNYA AL-QUR’AN
1. Sebagai Petunjuk Hidup (Hudan)
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan tentang petunjuk serta pembeda.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
2. Sebagai Al-Furqān (Pembeda)
Al-Qur’an menjadi standar kebenaran dalam segala aspek kehidupan: aqidah, syariah, dan akhlak.
3. Sebagai Syifā’ (Penyembuh Hati)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ
“Wahai manusia, telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit dalam dada.”
(QS. Yūnus: 57)
4. Sebagai Basis Peradaban Islam
Al-Qur’an melahirkan peradaban ilmu, keadilan, dan kemanusiaan—dari masyarakat jahiliyah menjadi khairu ummah.
C. BERKAH AL-QUR’AN
1. Kitab Penuh Keberkahan
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
“Ini adalah kitab yang Kami turunkan penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.”
(QS. Ṣād: 29)
2. Ketenangan Jiwa
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
3. Mengangkat Derajat
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini dan merendahkan yang lain dengannya.”
(HR. Muslim)
4. Memberi Syafaat di Hari Kiamat
اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.”
(HR. Muslim)
KESIMPULAN
Nuzul Al-Qur’an merupakan revolusi ilahiyah terbesar dalam sejarah manusia, yang mengubah:
- kegelapan → cahaya
- kesesatan → hidayah
- kebodohan → peradaban ilmu
Prosesnya dimulai dari ru’yā ṣādiqah, dilanjutkan tazkiyah melalui khalwat, hingga turunnya wahyu sebagai manhaj hidup universal.
Dalam konteks dakwah kontemporer, Al-Qur’an harus dihadirkan sebagai:
- sumber solusi krisis moral
- fondasi kebangkitan umat
- pedoman membangun peradaban modern berbasis wahyu
Footnote
- QS. Yāsīn: 6
- QS. Yūnus: 18
- QS. At-Takwīr: 8–9
- HR. al-Bukhāri & Muslim (Bad’ al-Waḥy)
- HR. al-Bukhāri (tahannuts di Hira)
- QS. Al-‘Alaq: 1–5
- HR. al-Bukhāri & Muslim (zammiluni)
- HR. al-Bukhāri (Waraqah bin Naufal)
- QS. Al-Muddatsir: 1–5
- QS. Al-Isrā’: 106
- QS. Al-Baqarah: 185
- QS. Yūnus: 57
- QS. Ṣād: 29
- QS. Ar-Ra’d: 28
- HR. Muslim (faḍā’il al-Qur’an)
Wallāhu a‘lam bish-ṣawāb
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar