KEUTAMAAN LAILATUL QADAR


KEUTAMAAN LAILATUL QADAR

Pengertian Judul

Lailatul Qadar (ليلة القدر) merupakan malam yang sangat agung dalam bulan Ramadhan. Secara bahasa, kata ليلة berarti malam, sedangkan القدر memiliki beberapa makna: kemuliaan (الشرف), ketetapan (التقدير), dan kesempitan karena banyaknya malaikat yang turun (الضيق لكثرة الملائكة).

Dengan demikian, Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan, malam penetapan berbagai takdir Allah untuk satu tahun ke depan, serta malam yang dipenuhi turunnya malaikat membawa rahmat dan keberkahan.

Allah ﷻ secara khusus menurunkan satu surat dalam Al-Qur'an yang membahas malam ini, yaitu Surah Al-Qadr, yang menunjukkan betapa besar kedudukannya dalam Islam.


Asbābun Nuzūl Surat Al-Qadr (سبب نزول سورة القدر)

Di antara riwayat yang menjelaskan sebab turunnya Surah Al-Qadr adalah kisah yang disebutkan oleh para ulama tafsir mengenai kekaguman para sahabat terhadap ibadah umat terdahulu.

Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ menceritakan kepada para sahabat tentang empat orang saleh dari Bani Israil yang beribadah kepada Allah selama delapan puluh tahun tanpa melakukan maksiat sedikit pun. Mereka adalah:

  • Ayyub عليه السلام
  • Zakariya عليه السلام
  • Hizqil (حزقيل)
  • Yusya’ bin Nun عليه السلام

Ketika para sahabat mendengar kisah tersebut, mereka merasa takjub sekaligus khawatir, karena umur umat Nabi Muhammad ﷺ relatif lebih pendek dibandingkan umat terdahulu. Mereka merasa tidak akan mampu menyamai amal ibadah selama puluhan tahun tersebut.

Dalam keadaan demikian, Malaikat Jibril عليه السلام datang membawa wahyu kepada Nabi ﷺ, yaitu firman Allah:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.
Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?
Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan."

(QS. Al-Qadr: 1–3)

Seribu bulan sama dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun. Dengan demikian, Allah ﷻ memberikan karunia yang sangat besar kepada umat Nabi Muhammad ﷺ, sehingga mereka dapat memperoleh pahala yang sangat besar dalam waktu yang singkat.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini merupakan rahmat besar Allah bagi umat Nabi Muhammad ﷺ yang memiliki usia lebih pendek dibandingkan umat-umat terdahulu.¹


Keutamaan Lailatul Qadar

1. Malam Turunnya Al-Qur’an (نزول القرآن)

Keutamaan terbesar Lailatul Qadar adalah bahwa pada malam inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar."
(QS. Al-Qadr: 1)

Dalam ayat lain Allah juga berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan."
(QS. Ad-Dukhan: 3)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa malam yang diberkahi tersebut adalah Lailatul Qadar.


2. Lebih Baik dari Seribu Bulan (خير من ألف شهر)

Allah ﷻ berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan."
(QS. Al-Qadr: 3)

Seribu bulan setara dengan 83 tahun lebih. Artinya, satu malam ibadah di Lailatul Qadar lebih bernilai daripada ibadah selama puluhan tahun.

Imam Mujahid menjelaskan bahwa amal pada malam tersebut lebih baik daripada amal selama seribu bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadar di dalamnya.


3. Turunnya Para Malaikat (تنزل الملائكة)

Allah ﷻ berfirman:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

"Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan."
(QS. Al-Qadr: 4)

Yang dimaksud الرُّوح adalah Malaikat Jibril عليه السلام.

Turunnya para malaikat menunjukkan besarnya rahmat dan keberkahan yang meliputi orang-orang yang beribadah pada malam tersebut.


4. Malam Penuh Keselamatan (ليلة السلام)

Allah ﷻ berfirman:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

"Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar."
(QS. Al-Qadr: 5)

Maknanya adalah:

  • malaikat memberikan doa keselamatan
  • Allah melimpahkan kedamaian dan rahmat
  • setan tidak mampu mengganggu orang yang beribadah

5. Diampuninya Dosa-dosa (مغفرة الذنوب)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar merupakan kesempatan besar memperoleh maghfirah Allah.


6. Malam Penetapan Takdir Tahunan (تقدير المقادير)

Allah ﷻ berfirman:

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

"Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah."
(QS. Ad-Dukhan: 4)

Para ulama menjelaskan bahwa pada malam ini ditetapkan berbagai ketentuan tahunan seperti:

  • rezeki manusia
  • ajal
  • berbagai peristiwa kehidupan
  • serta berbagai ketentuan takdir lainnya

Penutup

Lailatul Qadar merupakan karunia besar Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Walaupun usia umat ini relatif pendek dibandingkan umat terdahulu, Allah memberikan satu malam yang nilainya lebih baik daripada ibadah selama puluhan tahun.

Karena itu Rasulullah ﷺ sangat bersungguh-sungguh menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Dari Aisyah رضي الله عنها:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

"Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap malam Lailatul Qadar.


Footnote

  1. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir Surah Al-Qadr.
  2. Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, tafsir QS. Al-Qadr ayat 3.
  3. Shahih Bukhari no. 1901.
  4. Shahih Muslim no. 760.
  5. Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan, tafsir QS. Ad-Dukhan ayat 4.


Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama