KADZIBUN KAFFARUN (كَذِبٌ كَفَّارٌ): GELAR BAGI ORANG YANG BERLINDUNG KEPADA MAKHLUK
Buletin Dakwah Ilmiah Kontemporer – Versi Lengkap & Diperkuat Dalil Hadis
BAB I
PENDAHULUAN: KEMURNIAN TAUHID SEBAGAI PONDASI AGAMA
Inti dari seluruh risalah Islam adalah Tauhidullah: memurnikan ibadah, harapan, ketergantungan, dan perlindungan hanya kepada Allah.
Namun realitas umat hari ini menunjukkan:
- Banyak manusia mengaku bertauhid,
- tetapi hatinya masih bergantung kepada makhluk,
- lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah,
- mencari keselamatan dari figur, bukan dari Rabb-nya.
Fenomena inilah yang dikecam keras oleh Al-Qur’an.
Allah bahkan memberi gelar sangat tegas:
كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Pendusta lagi sangat kufur.
Gelar ini ditujukan kepada orang-orang yang menjadikan makhluk sebagai pelindung dan sandaran hidup.
BAB II
DALIL UTAMA: QS. AZ-ZUMAR AYAT 3
1. Nash Ayat
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta lagi sangat ingkar (kafir).”
(QS. Az-Zumar: 3)
2. Konteks Turunnya Ayat
Sebelum ayat ini, Allah mengutip perkataan kaum musyrikin:
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”
Mereka mengaku menyembah Allah, tetapi menjadikan makhluk sebagai:
- perantara mutlak,
- tempat meminta perlindungan,
- sandaran keselamatan.
Atas sikap inilah Allah menyebut mereka:
كَاذِبٌ كَفَّارٌ
BAB III
MAKNA ISTILAH “كَاذِبٌ كَفَّارٌ”
1. Makna “كَاذِبٌ” – Pendusta
Mereka pendusta karena:
- lisannya mengaku beriman,
- namun hatinya bergantung pada makhluk,
- mengaku menyembah Allah,
- tetapi berharap pada selain-Nya.
2. Makna “كَفَّارٌ” – Sangat Kufur
Kata ini berbentuk mubalaghah, artinya:
- kufur yang berat,
- berulang-ulang,
- mengakar dalam keyakinan.
Ini menunjukkan bahwa menggantungkan diri kepada makhluk bukan dosa kecil, tetapi penyimpangan aqidah yang serius.
BAB IV
PRINSIP AGUNG TAUHID: HANYA ALLAH TEMPAT BERLINDUNG
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Hakikat tauhid adalah:
- menggantungkan hati hanya kepada Allah,
- menjadikan Allah satu-satunya pelindung,
- tidak menjadikan makhluk sebagai sandaran nasib.
BAB V
LARANGAN MENJADIKAN MAKHLUK SEBAGAI PELINDUNG
Allah menegaskan:
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ
“Mereka menjadikan selain Allah sebagai pelindung-pelindung.”
(QS. Asy-Syura: 9)
Perbuatan ini adalah inti dari penyimpangan tauhid.
BAB VI
PENGUATAN DENGAN DALIL-DALIL HADIS
Berikut dalil-dalil hadis yang menegaskan larangan bergantung kepada makhluk:
1. Hadis Pokok Tauhid
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi, hasan shahih)
Ini kaidah paling tegas dalam masalah ketergantungan.
2. Larangan Bergantung kepada Manusia
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
“Barangsiapa menggantungkan diri kepada sesuatu, maka ia akan diserahkan kepadanya.”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Maknanya:
Siapa yang bergantung pada makhluk, Allah akan biarkan ia bersama makhluk itu – tanpa pertolongan-Nya.
3. Hanya Allah Tempat Berlindung
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ
“Ya Allah, tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Ini bukti bahwa perlindungan hakiki hanya kepada Allah.
4. Bahaya Meminta kepada Selain Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Siapa mendatangi dukun lalu membenarkan ucapannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
(HR. Ahmad)
Ini contoh ketergantungan kepada makhluk dalam urusan ghaib.
5. Larangan Berdoa kepada Selain Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah.”
(HR. Tirmidzi, shahih)
Jika doa adalah ibadah, maka memohon kepada makhluk dalam urusan ghaib berarti mengalihkan ibadah kepada selain Allah.
6. Ancaman Syirik dalam Permintaan
Beliau ﷺ bersabda:
لَا تَقُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ
“Janganlah kalian berkata: ‘Atas kehendak Allah dan kehendak fulan’, tetapi katakanlah: ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendak fulan’.”
(HR. Abu Dawud, shahih)
Ini menunjukkan bahwa menggantungkan sesuatu kepada makhluk secara setara dengan Allah adalah terlarang.
BAB VII
BENTUK-BENTUK BERLINDUNG KEPADA MAKHLUK DI MASA KINI
Di antara praktik modern yang termasuk dalam kategori ini:
- Mengultuskan tokoh agama
- Menganggap figur tertentu penentu nasib
- Menggantungkan keselamatan pada jabatan
- Merasa aman karena dekat orang berpengaruh
- Meminta pertolongan ghaib kepada manusia
BAB VIII
TAWASSUL KEPADA AHLI KUBUR: CONTOH PALING NYATA
Ini bentuk paling sering terjadi.
Banyak orang:
- datang ke kuburan wali,
- meminta rezeki,
- meminta jodoh,
- meminta keselamatan.
Dengan alasan klasik:
“Hanya menjadikan perantara.”
Alasan ini sama persis dengan alasan musyrikin Quraisy dalam QS. Az-Zumar ayat 3.
Praktik yang Termasuk Syirik
Ucapan seperti:
- “Wahai Syaikh fulan, tolong aku”
- “Ya wali fulan, sembuhkan penyakitku”
- “Dengan berkah kubur ini, selamatkan aku”
Ini bukan tawassul syar’i, tetapi istighatsah kepada makhluk.
Hadis Larangan Mengkultuskan Kuburan
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Jika berlebihan terhadap kubur nabi saja dilarang, apalagi kepada selain nabi.
BAB IX
TAWASSUL YANG DIBENARKAN
Tawassul yang sesuai syariat:
- Bertawassul dengan nama dan sifat Allah
- Bertawassul dengan amal saleh
- Meminta doa kepada orang saleh yang masih hidup
BAB X
PERBEDAAN TAWASSUL SYAR’I DAN SYIRKI
Tawassul Syar’i:
- “Ya Allah dengan rahmat-Mu…”
- “Ya Allah dengan amal salehku…”
Tawassul Syirik:
- “Wahai wali fulan tolonglah aku…”
- “Ya penghuni kubur, mudahkan urusanku…”
Perbedaan ini sangat fundamental.
BAB XI
DAMPAK AQIDAH DARI BERLINDUNG KEPADA MAKHLUK
Akibatnya:
- hilang kemurnian tauhid,
- jatuh pada kesyirikan,
- jauh dari pertolongan Allah,
- termasuk kategori:
كَاذِبٌ كَفَّارٌ
BAB XII
KEMBALI KEPADA TAUHID MURNI
Allah mengajarkan:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 5)
Ini deklarasi pembebasan dari ketergantungan kepada makhluk.
BAB XIII
LANGKAH PRAKTIS PEMURNIAN AQIDAH
- Belajar tauhid dengan benar
- Memurnikan doa hanya kepada Allah
- Menghapus kultus individu
- Menjauhi praktik-praktik syirik
- Memperkuat tawakkal
BAB XIV
SIKAP ULAMA AHLUS SUNNAH
Para ulama menegaskan:
- Berdoa kepada selain Allah adalah syirik
- Meminta kepada mayat adalah kesesatan
- Ketergantungan kepada makhluk merusak iman
BAB XV
KESIMPULAN
- Gelar كَاذِبٌ كَفَّارٌ adalah peringatan keras dari Allah
- Ditujukan kepada orang yang menjadikan makhluk sebagai pelindung
- Dalil utamanya QS. Az-Zumar ayat 3
- Diperkuat banyak hadis shahih
- Tawassul kepada ahli kubur termasuk penyimpangan aqidah
- Tauhid menuntut ketergantungan total hanya kepada Allah
PENUTUP
Marilah kita jujur:
Apakah hati kita sudah benar-benar hanya bergantung kepada Allah?
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang murni tauhidnya.
آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِين
FOOTNOTE (CATATAN KAKI)
- Tafsir Ibnu Katsir, QS. Az-Zumar ayat 3
- Tafsir Al-Qurthubi, penjelasan ayat yang sama
- Shahih Tirmidzi no. 2516
- Musnad Ahmad tentang hadis “man ta‘allaqa syai’an…”
- Shahih Bukhari & Muslim, doa perlindungan
- Fatwa Lajnah Daimah no. 2769
- Ibnu Taimiyah, Qa‘idah Jalilah fit-Tawassul
- Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
- Syarh Aqidah Thahawiyah, Syaikh Shalih Al-Fauzan
- Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi
Wallahu a‘lam bish-shawab


Posting Komentar