Sya‘ban: Bulan Rekonsiliasi Tauhid dan Sosial



Sya‘ban: Bulan Rekonsiliasi Tauhid dan Sosial

Seleksi Spiritual Menjelang Ramadhan

Buletin Dakwah Ilmiah Kontemporer


Pendahuluan: Sya‘ban Bukan Bulan Netral

Sya‘ban bukan bulan transisi tanpa makna. Ia adalah bulan seleksi iman. Pada fase ini, Islam tidak menilai siapa yang paling sibuk beramal, tetapi siapa yang lolos dari dua penghalang utama ampunan Allah: syirik dan permusuhan. Tanpa rekonsiliasi tauhid dan sosial, Ramadhan berisiko hanya menjadi rutinitas biologis—lapar dan haus tanpa takwa.


1. Rekonsiliasi Tauhid: Syirik adalah Veto Total Ampunan

Islam bersikap absolut dalam tauhid. Semua amal—seberapa pun besar—gugur jika tercemar syirik.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. an-Nisā’: 48)¹

Ketegasan ini dipertegas dalam hadis Sya‘ban:

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Allah melihat seluruh makhluk-Nya pada malam pertengahan Sya‘ban, lalu Dia mengampuni semuanya kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang bermusuhan.”²

Artinya jelas: syirik adalah pembatal kelayakan spiritual. Ramadhan tidak akan memperbaiki akidah yang dibiarkan rusak sejak Sya‘ban.


Contoh Spesifik Syirik Modern (Realitas Lapangan)

a. Merasa aman karena figur, bukan karena Allah
– Merasa selamat karena dekat tokoh tertentu
– Takut celaka jika tidak patuh pada figur, meski melanggar dalil
– Tenang dengan “orang kuat”, bukan dengan doa

Allah menegur:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah saja cukup bagi hamba-Nya?”
(QS. az-Zumar: 36)

b. Ritual atau benda yang diyakini “pasti berefek” tanpa dalil
– Air, kain, tanah, atau benda tertentu diyakini otomatis menolak bala
– Amalan yang dianggap jaminan keselamatan tanpa sandaran sahih

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
“Siapa yang menggantungkan diri pada sesuatu, ia akan diserahkan kepada sesuatu itu.”
(HR. Tirmidzi no. 2072)³

c. Kultus nasab, gelar, dan label agama
– Merasa benar karena keturunan, bukan karena dalil
– Kritik ilmiah dianggap “durhaka”
– Kebenaran ditentukan siapa yang bicara, bukan apa hujjahnya

Nabi ﷺ menegaskan:

مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Siapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.”
(HR. Muslim no. 2699)


2. Rekonsiliasi Sosial: Permusuhan Disejajarkan dengan Syirik

Hadis Sya‘ban menyandingkan musyāḥanah (permusuhan) dengan syirik. Ini pesan keras: konflik sosial adalah dosa iman, bukan sekadar etika.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ… إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ
“Pintu surga dibuka setiap Senin dan Kamis… kecuali orang yang bermusuhan.”
(HR. Muslim no. 2565)⁴


Contoh Spesifik Konflik Umat

a. Perbedaan fikih berubah jadi permusuhan
– Qunut, tahlil, maulid → saling sesat
– Masjid dan majelis saling memutus diri
Padahal sahabat berbeda tanpa saling membenci.

b. Dakwah keras, akhlak rusak
– Mudah melabeli sesat, bid‘ah, munafik
– Mengaku sunnah, tapi lisan kasar

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ
“Mukmin bukan pencela dan bukan pelaknat.”
(HR. Tirmidzi no. 1977)⁵

c. Dendam dipelihara atas nama prinsip
– Enggan memaafkan bertahun-tahun
– Menganggap memaafkan sebagai kelemahan

Allah berfirman:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Siapa yang memaafkan dan berdamai, pahalanya di sisi Allah.”
(QS. asy-Syūrā: 40)


3. Kesalehan Palsu: Ritual Banyak, Tauhid dan Akhlak Bocor

Rasulullah ﷺ menggambarkan kebangkrutan spiritual:

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟
“…Ia datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi menzalimi manusia…”
(HR. Muslim no. 2581)

Tauhid tanpa akhlak melahirkan kekerasan simbolik. Akhlak tanpa tauhid melahirkan moral rapuh. Takwa mensyaratkan keduanya utuh.


4. Sya‘ban: Bulan Audit Sebelum Takwa

Sya‘ban bukan bulan menambah ritual, tetapi bulan membongkar ilusi iman:

  • Syirik dibiarkan → Ramadhan tertolak
  • Permusuhan dipelihara → pahala tertahan
  • Ritual tanpa rekonsiliasi → takwa gagal lahir

Penutup: Alarm Terakhir Sebelum Ramadhan

Sya‘ban adalah peringatan terakhir. Siapa yang enggan berdamai dengan Allah melalui tauhid, dan berdamai dengan manusia melalui penghapusan permusuhan, akan masuk Ramadhan hanya sebagai orang lapar, bukan sebagai hamba bertakwa.


Footnote

  1. QS. an-Nisā’: 48.
  2. HR. Ibnu Mājah no. 1390; Ahmad no. 6642; dinilai hasan oleh al-Albānī (Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah no. 1144).
  3. HR. Tirmidzi no. 2072; dinilai hasan.
  4. HR. Muslim no. 2565.
  5. HR. Tirmidzi no. 1977; dinilai sahih.

Wallahu A'lam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama